Skip to main content

5 Sifat Orang Muslim Menurut Para Tokoh Orientalisme

5 Sifat Orang Muslim Menurut Para Tokoh Orientalisme

www.azid45.web.id - Sifat Orang Muslim Menurut Para Tokoh Orientalisme. Dalam ratikel sebelumnya, saya sudah pernah menyinggung tentang fase sejarah perkembangan kaum orientalisme. Dimana menurut penelitian diskursus terorisme yang ditulis oleh Mukayat dalam tesisnya mengungkapkan bahwa sejarah perkembangan kaum orientalisme terdapat 4 fase. Namun kali ini saya tidak akan membahasnya lagi, teman-teman bisa melihatnya dengan klik tulisan diatas tentang fase perkembangan kaum orientalisme. Adapun dalam kesempatan kali ini, saya membahas kaum orientalisme dalam sudut padang yang berbeda yaitu sifat orang Muslim dalam paradigma tokoh orientalisme.

Menurut sejarah, Islam merupakan agama yang damai, agama yang selamat, dan agama yeng penuh kemuliaan dan agama yang dibawah oleh Nabi yang berakhlak mulia serta agama yang perintah unutk saling bersaudara sesama lainnya. Setidaknya, kita sebagai umat Islam harus mencontoh nabi kita Muhammad SAW baik dari 4 sifat yang wajib yaitu siddiq, amanah, fathanah, dan tabligh, maupun dari suri tauladan Nabi Muhammad SAW yang sellau memaafkan kesalahan orang lain dan penuh kasih sayang terhadap sesama dan selainnya. Sehingga tadak heran agama Islam disebut agama yang rahmatan lil alamin.

Hal ini tentunya menjadikan kajian yang luar biasa terhadap bangsa di luar Arab dan Agama selain Islam. Mengapa begitu? Bagaimana tidak, yang dahulunya bangsa Arab merupakan bangsa yang jahiliyah, bangsa yang kasar, namun dengan datangnya  Islam yang dibawahkan oleh Nabi Muhammad SAW bangsa Arab berubah total hingga 360 derajat menurut saya. Salah satu yang mengkaji Umat Islam biasa kita sebut dengan kaum orientalisme. Kaum ini sudah lama mengagumi Islam sehingga banyak sekali kajian yang sudah diteliti oleh mereka, dan tidak sedikit pula mereka mendapat hidayah dari Allah SWT sehinga memeluk agama Islam.

Lantas apakah kajian tentang sifat orang muslim sudah pernah dikaji?. Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang menarik. Dalam perkembangannya, kaum orientalisme pernah mengkaji hal tersebut, sebagaimana telah diungkapkan oleh salah satu tokoh kaum orientalisme Carole Hillenbrand dalam bukunya The Crusade, Islamic Perspectives mengungkapkan bahwa Orang Islam merupakan orang yang beradab, maju, dan teratur. Orang-orang Barat, khususnya Eropa mulai mengenal peradaban yang tinggi, adab dan norma, serta sistem yang modern karena kajian mereka terhadap Islam sejak perang salib.

Hal ini setidaknya dapat dijabarkan dalam 5 Sifat yang ada dalam diri Orang Muslim, yaitu;

Keadilan dan Kesetaraan

Seorang sastrawan dan filsuf Inggris, Thomas Carlyle, mengatakan, “Aku melihat sebuah sifat yang sangat mulia di dalam Islam. Yaitu nilai kesetaraan antar sesama manusia. Ini adalah pandangan yang benar dan nurani yang luhur. Manusia nilainya setara di dalam Islam. Islam tidak hanya menjadikan kegiatan berderma sebagai suatu amalan yang dianjurkan, akan tetapi ia menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Dan berderma itu (zakat pen.) merupakan bagian dari rukun Islam. Harta dari seseorang yang kaya dibagi dengan kadar tertentu, kemudian diberikan kepada orang-orang miskin, membutuhkan, dan mengalami kesulitan. Hal ini benar-benar indah. Dan yang demikian adalah nilai-nilai humanis, kasih sayang, persaudaraan, dan persamaan.” (Thomas Carlyle, al-Abthal, Hal: 80).

Menebarkan Kebaikan

Umat Islam adalah penebar kebaikan sebagaimana disaksikan oleh seorang cendekiawan dan ahli hukum asal Perancis, Douminique Sourdel. Sourdel mengatakan, “Tidak mungkin dipungkiri bahwa Islam adalah agama yang terus-menerus menebarkan kebaikan hakiki, khususnya kebaikan di lingkungan sosial. Ini merupakan realisasi dari ajaran Alquran dan bersumber dari pesan-pesan Allah yang seakan menampakkan kontinuitas sebuah kebaikan. Dijelaskan dalam Alquran:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177).

Saling tolong-menolong, menjamu tamu, dermawan, amanah, dan teguh pendirian sifat-sifat yang terdapat pada individu masyarakat. Demikian juga dengan adil, memiliki etos, dan kecukupan. Inilah nilai-nilai kebaikan yang senantiasa membuat umat Islam berbeda. Ini sesuatu yang benar adanya. Sifat-sifat yang menunjukkan kuatnya tabiat dasar manusia yang memberikan mereka kehormatan dan kemuliaan yang sebelumnya tidak diketahui oleh orang Arab jahiliyah.” (Douminique Sourdel, al-Islam, Hal: 107).

Seorang orientalis dan sejarawan Barat, Will Durant, mengatakan, “Secara umum, umat Islam lebih baik dibanding orang-orang Nasrani dalam hubungan bertetangga, dalam memenuhi janji, dan ketulusan dalam perjanjian-perjanjian dengan selain mereka. Sejarawan sepakat bahwa Shalahuddin adalah orang yang paling mulia dibanding (para pemimpin) peserta Perang Salib lainnya. Umat Islam adalah orang-orang yang jujur dan tidak memiliki kebiasaan berbohong. Bohong hanya dibolehkan apabila berkonsekuensi selamat dari kematian (dalam kondisi darurat pen.), atau untuk menyelesaikan sengketa, atau membahagiakan istri, atau tipu daya dalam peperangan. Adab islami merupakan gabungan antara taklif syariat dan kebahagiaan. Komunikasi antara umat Islam penuh dengan penghormatan dan adab. (Dalam hal ini) Mereka seperti orang-orang Yahudi yang saling mengucapkan salam antar sesama mereka. Memberi penghormatan dan saling bersalaman. Salah seorang di antara mereka berkata “Assalamualaikum” Jawaban yang utuh dari salam penghormatan ini adalah “Aalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Memuliakan tamu adalah sifat yang sudah biasa. Umat Islam adalah sebuah contoh dari lemah lembut, humanis, dan toleran. Jika –kita nilai secara adil-, sifat umat Islam adalah cepat memahami, cerdas, sensitif (mduah tersentuh), memiliki kebahagiaan di hati dan pandai menghibur diri sendiri. Mereka ridha dalam keadaan lapang dan sabar dalam keadaan sulit. Mereka mengisi hari-hari mereka dengan kesabaran, kedermawanan, menjaga martabat, dan wibawa.” (Will Durant, Qishshatu al-Hadharah, 13/141).

Menyayangi Orang-orang Yang Lemah

Mungkin apa yang terjadi pada Perang Salib II menjadi pusat perhatian terbesar dalam penggalan sejarah Islam setelah pembebasan Kota Mekah. Seorang orientalis Inggris, Thomas Arnold, dalam buku-bukunya ia mencatat betapa banyak tentara salib yang datang ke negeri Timur lalu menjadi pemeluk Islam, padahal tujuan awal mereka adalah memerangi umat Islam. Mereka mendapati umat Islam lah yang perhatian terhadap mereka saat mereka menderita luka-luka pasca perang. Mereka pun terkesan dengan akhlak kaum muslimin kemudian memeluk Islam. Para pembesar tentara salib mencoba mengirim St. Amaury de Laroche untuk menguatkan iman Kristen para pasukan, namun upaya ini tidak memiliki arti yang besar.

Thomas Arnold mengatakan, “Orang-orang miskin dan yang sudah sepuh mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyeberangi laut menuju Palestina. Orang-orang seperti mereka (jika berangkat) hanya akan menjadi tawanan, atau hanya mengantarkan nyawa, atau orang-orang Arab akan mengubah agama mereka. Seandainya pun mereka tidak memeluk Islam, mereka akan sangat terkesan hidup di negeri muslim. Di bawah naungan dan diperintah para pemimpinnya. Mereka akan sangat bahagia dan menerima pemimpin mereka yang baru (yakni umat Islam).” (Thomas Arnold, ad-Dakwah ilal Islam, Hal: 108).

Demikian juga seorang orientalis Jerman, Sigrid Hunke. Hunke mengisahkan sebuah dokumen penting yang merupakan catatan dari tentara salib saat menjadi tawanan Sultan al-Kamil al-Ayyubi. Hunke mengatakan, “Saat Sultan al-Kamil memenangkan pertempuran pada tahun 1221 M, ia memperlakukan tawanannya dengan hormat. Ia tidak mengqishas tawanan tersebut; mata dengan mata dan gigi dengan gigi. Yang ia lakukan adalah memberikan mereka makanan. Ia mengirimkan uang sebanyak 30.000 Raghif. Dan memberi makanan lainnya. Apa yang dilakukannya ini disaksikan oleh seorang tawanan yang merupakan seorang filsuf dan teolog Jerman dari Kota Cologne yang bernama Oliveros.

Belum pernah terdengar sekelompok pasukan memperlakukan tawanannya dengan cara lemah lembut dan dermawan seperti ini, khususnya tawanan yang merupakan musuh di medan peperangan… … (tawanan mengatakan) Orang-orang yang kami bunuh ayah-ayah mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, dan kami perlakukan dengan kejam, ternyata kemudian kami menjadi tawanan mereka. Dan hampir-hampir kami mati kelaparan. Mereka malah mengutamakan diri kami dibanding mereka sendiri. Mereka membantu kami dengan segala daya dan upaya. Kami merasakan kasih sayang mereka, padahal saat itu kami tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan.” (Sigrid Hunke, Allahu Laysa Kadzalik, Hal: 33).

Interaksi Umat Islam dengan Non Islam

Pembahasan ini termasuk materi yang paling banyak dibicarakan oleh orang-orang di luar Islam. Tema ini pula merupakan sesuatu yang paling kentara dan jelas perbedaannya antara masyarakat Islam dan masyarakat non muslim. Dalam tulisan ini, cukup kami cuplikkan tiga hal saja dari banyak contoh yang banyak tertulis:

Pertama: Henri de Castries –seorang penulis dan veteran militer Perancis di Aljazair- mengatakan, “Saya telah membaca sejarah (berbagai bangsa pen.). Saya mendapati bahwasanya interaksi umat Islam dengan kaum Nasrani jauh dari rasa kebencian. Mereka berinteraksi dengan baik dan meringankan. Lemah lembut dan indah. Sebuah interaksi yang di masa itu tidak ditemui kecuali hanya ada pada kaum muslimin. Mereka sangat lemah lembut. Kasih sayang mereka sangat jelas terlihat tatkala orang-orang Eropa berada dalam kondisi lemah.” (Henri de Castries, al-Islam Khawathir wa Sawanih, Hal: 79).

Kedua: Seorang orientalis Jerman, Adam Metz, mengatakan, “Keberadaan orang-orang Nasrani di tengah-tengah kaum muslimin adalah sebab munculnya toleransi yang digembar-gemborkan orang-orang saat ini. Keharusan untuk hidup berdampingan adalah alasan pertama yang memunculkan sikap toleransi ini. Yang di abad pertengahan belum dikenal di Eropa. Bukti dari adanya toleransi ini adanya ilmu perbandingan agama atau kajian agama-agama dan madzhab-madzhab dengan berbagai coraknya. Dan ilmu ini mendapat sambutan yang luar biasa.” (Adam Metz, al-Hadharah al-Islamiyah fi al-Qarni ar-Rabi’ al-Hijri, 1:61).

Ketiga: Orang-orang non Islam lebih menerima hukum Islam dibanding tata aturan penguasa mereka. Mereka yang dianiaya di negeri-negeri mereka melarikan diri ke negeri Islam. Seorang orientalis Perancis, Maxime Rodinson, menyatakan bahwa di Italia banyak pemerintah otoriter yang membuat rakyatnya menderita. Saat para penguasa di wilayah ini berencana menyerang Turki, maka rakyat menganggap inilah momen yang tepat untuk melarikan diri dari negeri mereka menuju negeri muslim. Hal ini juga pernah dirasakan orang-orang Yahudi yang tertindas oleh pemerintah Nasrani di Spanyol (Maxime Rodinson, ash-Shurah al-Gharbiyah wa ad-Dirasat al-Gharbiyah wa al-Islamiyah, Hal: 49).

Kasih Sayang Umat Islam Kepada Hewan

Seorang orientalis Perancis, Gustave Le Bon, mengatakan, “Orang-orang timur memperlakukan anjing dan hewan-hewan lainnya dengan penuh kasih sayang. Anda tidak akan melihat orang Arab menyakiti hewan. Menyakiti hewan adalah kebiasaan penunggang hewan di Eropa. Secara naluriah, mereka orang-orang Arab memperlakukan hewan dengan lemah lembut. Dan tidak berlebihan (jika kita katakan) wilayah Timur adalah surga bagi para hewan. Di Timur, berbagai macam hewan dipelihara. Ada anjing, kucing, dan burung-burung. Anda bisa mendapati burung-burung di masjid. Bertengger di atas pintu-pintunya dengan tenang… …Saya diceritakan bahwa di Kairo, di sebuah masjid, ada seekor kucing yang datang pada jam-jam tertentu untuk makan di sana. Sejak lama, ada seseorang yang memberinya makanan… …Hendaknya orang-orang Eropa meneladani banyak hal dari lemah lembutnya orang-orang Timur.” (Gustave Le Bon, Hadharatu al-Arab, Hal: 360-361).

Itulah, kajian orientalisme terhadap kaum muslim, dimana terdapat setidaknya 5 sifat orang muslim menurut para tokoh orientalisme. Dengan hal tersebut, sejatinya kita dapat mengetahui betapa indahnya jika syariat Islam diterapkan secara kaffah, dengan hal ini maka kaum Muslim akan bangkit lagi sebagaimana zaman masa lalu yang penuh gemilang.

Sumber:
Tulisan Muhammad Ilhami yang berjudul Akhlaq al-Muslimin bi Aqlami al-Muarrikhin al-Garbiyyin, dalam web. kisahmuslim.com
PERHATIAN:Jika anda ingin bertanya atau bantuan bisa kontak kami
contact atau 089677337414 - Terima kasih.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui
Buka Komentar
Tutup Komentar
Close Disqus
Close Translate