Secara formal KH. KH. A. Dahlan dapat dikatakan tidak pernah memperoleh pendidikan namun diperoleh secara otodidak. Ketika menjelang dewasa, belau kemudian belajar berbagai ilmu agama seperti ilmu fiqih, ilmu nahwu, ilmu falaq, dan ilmu hadits[1], dari berbagai ilmu yang dipelajarinya menjadikan tumbuhnya sifat KH. A. Dahlan yang arif dan tajam pemikirannya serta memiliki pandangan yang jauh ke depan.
Dari berbagai kajian ilmu agama yang dipelajari KH. A. Dahlan membuat pemikiran beliau bertambah, adapun pokok-pokok pemikiran beliau adalah:

Pertama, dalam bidang aqidah, pandangan beliau sejalan dengan pandangan dan pemikiran ulama’ salaf. Kedua, menurut beliau bahwa beragama itu adalah beramal; artinya berkarya dan berbuat sesuatu, melakukan tindakan sesuai dengan isi pedoman al-Qur’an dan as-Sunnah. Orang yang beragama ialah oaring menghadapkan jiwanya dan hidupnya kepada Allah yang dibuktikan dengan tindakan dan perbuatan seperti rela berkorban baik harta benda miliknya dan dirinya., serta bekerja dalam kehidupannya untuk Allah. Ketiga, dasar pokok hukum islam adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika keduanya tidak ditemukan kaidah hukum yang eksplisit maka ditentukan berdasarkan kepada penalaran dengan mempergunakan berpikir logis serta ijma’ dan qiyas. Keempat, terdapat jalan untuk memahami al-Qur’an yaitu: memahami artinya, memahami maksudnya, selalu bertanya kepada diri sendiri, apakah larangan dan perintah agama yang telah diketahui sudah ditinggal dan perintah agamanya telah dikerjakan, serta tidak mencari ayat lain sebelum isi sebelumnya dikerjakan. Kelima, beliau menyatakan bahwa tindakan nyata adalah wujud kongkrit dari penterjemahan al-Qur’an yang dilandasi dengan kemampuan akal pikiran (ilmu logika). Keenam, beliau memiliki pedoman hidup  untuk selalu menanamkan gerak hati untuk selalu maju dengan landasan moral dan keikhlasan dalam beramal. Ketujuh, selalu melek ilmu pengetahuan yang selalu berkembang sesuai zamannya.[2]
Adapun menurut R.H Hadijid, ada terdapat tujuh kerangka pemikiran KH. A. Dahlan:
a)      Ulama’ adalah orang yang berilmu dan hatinya hidup, serta mengembangkan ilmunya dengan ikhlas karena  keikhlasan dilukiskan sebagai seseorang yang mengerti hakikat hidup.
b)     Untuk mencari kebenaran, oerang tidak boleh merasa benar sendiri. Oleh karena itu orang tersebut harus berani berdialog dan diskusi dengan semua pihak walaupun dengan  orang atau golongan yang bertentangan dan berbeda pendapat.
c)      Bersedia merubah pemikiran dengan sikap terbuka. Orang yang bersikap terbuka tidak akan mengikatkan diri kepada tradisi dan rutinitas.
d)     Dalam mencapai hidup, manusia harus bekerjasama dan dengan mempergunakan akal.
e)      Cara mengambil keputusan yang benar harus dilakukan dengan kesediaan mendengarkan segala pendapat, berdiskusi dan membandingkan serta menimbang baru kemudian memutuskan sesuai akal fikiran.
f)       Berani mengorbankan harta benda dan milik untuk membela dan menegakkan kebenaran.
g)      Mempelajari teori-teori pengetahuan dan keterampilan melalui proses bertingkat.[3]


[1] Abdul Munir Mulkhan, Pemikiran KH. A. Dahlan dan Muhammadiyah, (Jakarta: Bumi Aksara, 1990), h.6
[2] Ibid, h.8-9
[3] Ibid, h.11-12

Artikel Lainnya

Disqus CommentClick HereHide

0 komentar untuk 7 Pokok Pemikiran KH. Ahmad Dahlan Pendiri Muhamamdiyah