Skip to main content

Penerapan Karakteristik Unik Bahasa Arab dalam Pengajaran Bahasa Arab bagi Non Arab


Pada artikel kali ini, penulis akan mengetengahkan beberapa ciri-ciri khusus bahasa Arab yang dianggap unik dan tidak dimiliki bahasa-bahasa lain di dunia, terutama bahasa Indonesia. Ciri-ciri khusus ini perlu diketahui oleh para pengajar bahasa agar memudahkannya dalam menyusun dan mengembangkan berbagai strategi pembelajaran bahasa, khususnya bagi non Arab. Ciri-ciri khusus tersebut dapat ditemui dalam aspek-aspek bahasa, sebagai berikut :[1]

a.       Aspek Bunyi
Bahasa pada hakekatnya adanya bunyi, yaitu berupa gelombang udara yang keluar dari paru-paru melalui pipa suara dan melintasi organ-organ speech atau alat bunyi. Proses terjadinya bahasa apapun di dunia ini adalah sama. Maka tidak asing apabila ada beberapa bunyi bahasa yang hampir dimiliki oleh beberapa bahasa di dunia seperti bunyi m, n, l, k, dan s.
Bahasa Arab, sebagai salah satu rumpun bahasa Semit, memiliki ciri-ciri khusus dalam aspek bunyi yang tidak dimiliki bahasa lain, terutama bila dibandingkan dengan bahasa Indonesia atau bahasa-bhasa daerah yang banyak digunakan di seluruh pelosok tanah air Indonesia. Ciri-ciri khusus itu adalah :[2]
·         Vokal panjang dianggap sebagai fonem (أُو ، ِي ، أَ )
·         Bunyi tenggorokan (أصوات الحلق), yaitu ح dan ع
·         Bunyi tebal ( أصوات مطبقة), yaitu ض , ص , ط dan ظ .
·         Tekanan bunyi dalam kata atau stress (النبر )
·         Bunyi bilabial dental (شفوى أسنـانى ), yaitu ف
         Dan untuk mengetahui dimana letak نبر dalam suatu kata, kita harus mengetahui jenis syllable atau suku kata dalam bahasa Arab.
Untuk menentukan letak نبر dalam suatu kata, para ahli berbeda pendapat. Sebagai contoh, menurut Ibrahim Anis, letak نبر (stress) dalam suatu kata bahasa Arab dapat dilihat dari macam atau jenis suku kata atau syllable paling akhir dari kata itu. Bila suku kata akhir itu berupa jenis keempat atau kelima ( cvvc atau cvcc ) maka disitulah letak nabr-nya. Contoh kata نستــعين dan مستــقر , nabr-nya ada pada suku kata عين dan قـرّ .[3]
 Apabila suku kata terakhir dari jenis keempat atau kelima, lihat suku kata sebelum akhir. Bila ia berupa jenis syllable kedua atau ketiga (cvv atau cvc), maka disitu letak nabr-nya. Contoh pada kata يستحيل dan استغـفر letak nabr-nya pada suku kata حي dan تغ .
Dan apabila suku kata sebelum akhir bukan dari jenis kedua atau ketiga, artinya jenis pertama, maka lihat kembali suku kata ketiga dari akhir, seperti pada kata جلس dan اجتمع .
Menurut Brockelmann (linguist Jerman), نبر (stress) dalam kata bahasa Arab bias diketahui dengan cara menelusuri jenis suku kata dari akhir suatu kata sampai awal. Kapan kita menemui suku kata atau مقطع panjang yaitu jenis kedua, ketiga, keempat atau kelima dalam kata itu, maka disitulah nabr-nya. Dan bila tidak ditemui مقطع panjang pada kata tersebut, berarti nabr-nya ada pada suku kata pertama dari depan dalam kata tersebut. Contoh :
·         يقاتل nabr-nya pada قا
·         يجتـمع nabr-nya pada يَجـ
·         جمع nabr-nya pada جـَ
          Jadi perlu diingat bahwa nabr atau stress itu ada dalam bahasa Arab,  meskipun bukan merupakan fonem yang membedakan arti.[4]
b.      Aspek Kosakata
Ciri khas kedua yang dimiliki bahasa Arab adalah pola pembentukan kata yang sangat fleksibel, baik melalui derivasi (تصريف استـقاقى ) maupun dengan cara infleksi (تصريف إعرابـى ). Dengan melalui dua cara pembentukan kata ini, bahasa Arab menjadi sangat kaya sekali dengan kosakata. Misalnya dari akar kata علم , bila dikembangkan dengan cara اشتقاقى , maka akan menjadi :
·         عَلِم  يَعلَم dan seterusnya (تصريف اصطلاحى ) = 10 kata
·          يعلِّم عَلّم dan seterusnya = 10 kata
·         أعلم  يعلم dan seterusnya = 10 kata
·         تعلم  يتعلم dan seterusnya = 10 kata
·         تعالم  يتعالم dan seterusnya = 10 kata
·         يستعلم استعلم dan seterusnya = 10 kata
           Dari masing-masing kata ini dapat lagi kembangkan dengan cara تصريف إعرابـى sehingga akan lebih memperkaya bahasa Arab. Dari kata علم saja akan menjadi ratusan kata. Bahkan menurut suatu penelitian, unsur bunyi yang ada pada suatu kata, meskipun urutan letaknya dalam kata tersebut berbeda akan mengandung arti dasar yang sama.
c.       Aspek Kalimat
Ø  I’râb
Bahasa Arab adalah bahasa yang memiliki sistem i’râb terlengkap yang mungkin tidak dimiliki oleh bahasa lain. I’râb adalah perubahan bunyi akhir kata, baik berupa harakat atau pun berupa huruf sesuai dengan jabatan atau kedudukan kata dalam suatu kalimat. I’râb berfungsi untuk membedakan antara jabatan suatu kata dengan kata yang lain yang sekaligus dapat merubah pengertian kalimat tersebut.
Contoh :
· هذا قاتلٌ أخى
· هذا قاتلُ أخى
         Dua kalimat itu sangat berbeda sekali artinya, hanya karena perbedaan bunyi akhir kataqâtil (قاتل ). Yang pertama dibaca tanwin dan yang kedua tidak dibaca tanwin (di-idlâfat-kan). Maka kalimat pertama berarti orang ini yang membunuh saudaraku, sedang kalimat kedua artinya orang ini adalah pembunuh saudaraku. Contoh lain adalah :
·  ما أحسنَ خالداً artinya alangkah baiknya si Khalid.
·  ما أحسنُ خالدٍ artinya apa yang baik pada si Khalid ?
·  ما أحسنَ خالدٌ artinya apa yang diperbuat baik oleh si Khalid ?
Ø  Jumlah Fi’liyyah dan Jumlah Ismiyyah
Komponen kalimat dalam bahasa apapun pada dasarnya sama, yaitu subyek, predikat dan obyek. Namun, yang berbeda antara satu bahasa dengan bahasa lainnya adalah struktur atau susunan (تركيب) kalimat itu. Pola kalimat sederhana dalam bahasa Arab adalah :
·         اسم + اسم
·    فعل + اسم
Sementara dalam bahasa Indonesia pola kalimatnya adalah :
·         KB + KB( kata benda)
·         KB + KK( kata kerja)
        Pola فعل + اسم dalam bahasa Arab sudah dianggap dua kalimat. Dari perbandingan itu, tampak bahwa pola فعل + اسم hanya dimiliki bahasa Arab. Meskipun kadang ada ungkapan bahasa dalam percakapan sehari-hari pola yang sama dengan ini ditemui dalam bahasa Indonesia seperti turun hujan, tetapi ungkapan itu biasanya didahului oleh keterangan waktu umpamanya tadi malam turun hujan.
Ø  Muthâbaqah (Concord)
Ciri yang sangat menonjol dalam susunan kalimat bahasa arab adalah diharuskannya muthabaqah atau persesuaian antara beberapa bentuk kalimat. Misalnya harus ada muthabaqah antara mubtada’ dan khobar dalam hal ‘adad( mufrod,tasniyah,jama’) dan dalam hal jenisnya( mudzakkar,muannats). Contohnya adalah lafadz:
*زيد قائم
* قائمانالزيدان
* الزيدون قائمون
d.      Aspek Huruf
Ciri yang nampak dominan pada huruf-huruf bahasa Arab adalah :
·         Bahasa Arab memiliki ragam huruf dalam penempatan susunan kata, yaitu ada huruf yang terpisah, ada bentuk huruf di awal kata, di tengah dan di akhir kata.
·         Setiap satu huruf hanya melambangkan satu bunyi.
·         Cara penulisan berbeda dengan penulisan huruf Latin, yakni dari arah kanan ke kiri.
Disamping itu, ada beberapa huruf yang tidak dibunyikan seperti pada kata-kata:  أولئك الزكوة – أنا – dan sebaliknya, ada beberapa bunyi yang tidak dilambangkan dalam bentuk huruf seperti: هذا – ذلك
Pemaparan beberapa karakteristik unik bahasa Arab di atas setidaknya dapat dijadikan acuan dalam pengajaran bahasa Arab untuk non Arab, sehingga memudahkan para pengajar dalam melaksanakan proses kegiatan pembelajaran bahasa Arab.
Secara kodrati, manusia pertama kali mengenal bahasa melalui pendengaran, setelah itu berbicara, membaca, kemudian menulis. Demikian pula halnya dengan pengajaran bahasa Arab, hendaknya harus dimulai dengan melatih anak untuk selalu mendengar bahasa Arab.
Langkah pertama ini dapat dilakukan dengan memasukan anak ke dalam
lingkungan bahasa Arab (البيئة اللغوية) atau ke dalam laboratotium bahasa. Guru dapat juga menciptakan ruang kelas dengan selalu aktif menggunakan bahasa Arab sebagai pengantarnya, hal ini akan menarik perhatian siswa untuk berbicara seperti gurunya dengan menyimak atau disebut dengan listening.
Tahap selanjutnya adalah bercakap-cakap atau speaking. Langkah kedua ini harus didukung oleh perbendaharaan kosakata yang dimiliki siswa. Guru jangan menyuruh siswa untuk menghafalkan kamus, tetapi guru bisa mengajarkan kata-kata yang dipakai sehari-hari sehingga dapat dipraktekkan anak didik baik di sekolah maupun di luar sekolah. Dalam pembelajaran bahasa Arab, cara ini disebut dengan muhâdatsah.
Langkah selanjutnya adalah membaca (reading). Pada tahap ini siswa mulai diperkenalkan denganbacaan atau wacana bahasa Arab yang telah menggunakan gramatika yang benar. Penerjemahan kata atau wacana seminimal mungkin dilakukan oleh guru guna mendorong siswa untuk memahami teks tanpa membutuhkan penerjemahan secara utuh.
Setelah siswa memperoleh kemahiran membaca, maka tahap berikutnya yaitu menulis (writing) yang dalam bahasa Arab disebut insya’. Dengan berbekal hasil membaca berbagai wacana aatau bacaan yang baik, maka siswa perlahan-lahan dapat mengungkapkan pikirannya dalam sebuah tulisan. Dengan begitu maka empat kemahiran bahasa telah diperoleh siswa yaitumenyimak, berbicara, membaca dan menulis. Kemahiran bahasa ini kelak akan dapat dijadikan sarana dalam mempelajari, mengkaji dan mengembangkan ilmu-ilmu yang lainnya pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan masyarakat luas.[5].


[1] Baharuddin, dkk., Teori Belajar dan Pembelajaran (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm 143.
[2] Adnan Hsan Shalih Bharits, Mendidik Anak..., hlm 68.
[3] Dharma Kesuma, dkk., Pendidikan Karakter..., hlm 25.
[4] Ibid, hlm 35.
[5] Ibn Maskawaih Tahzib Al-Akhlaq, Menuju Kesempurnaan Akhlaq (Bandung: Mizan, 1994), hlm 56.

PERHATIAN:Jika anda ingin bertanya atau bantuan bisa kontak kami
contact atau 089677337414 - Terima kasih.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui
Buka Komentar
Tutup Komentar
Close Disqus
Close Translate