Skip to main content

Pengertian, Ruang Lingkup, dan Aliran dalam Filsafat Pendidikan Islam


www.azid45.web.id - Pengertian, Ruang Lingkup, dan Aliran dalam Filsafat Pendidikan Islam. Di zaman Yunani, filsafat bukan merupakan suatu disiplin teoritis dan spesial, akan tetapi suatu cara hidup yang kongkret, suatu pandangan hidup yang total tentang manusia dan tentang alam yang menyinari seluruh kehidupan seseorang. Selanjutnya, dengan kehidupan atau perkembangan peradaban manusia dan problema yang di hadapinya, pengertian yang bersifat teoritis seperti yang di lahirkan filsafat Yunani itu kehilangan kemampuan untuk memberi jawaban yang layak tentang kebenaran peradaban itu telah menyebabkan manusia melakukan loncatan besar dalam bidang sains, teknologi, kedokteran dan pendidikan.

Perubahan itu mendorong manusia memikirkan kembali pengertian tentang kebenaran. Sebab setiap terjadi perubahan dalam peradaban akan berpengaruh terhadap sistem nilai yang berlaku, karena antara perubahan peradaban dengan cara berfikir manusia terdapat hubungan timbal balik.

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik. Karenanya pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan, organis, dinamis, guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan, melalui filsafat kependidikan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.

A. Pengertian filsafat pendidikan

Sebelum mendefinisikan filsafat pendidikan, maka kita harus mengetahui arti filsafat itu sendiri. Kata filsafat berasal dari bahasa yunani filosofia yang berasal dari kata kerja filosofien berarti mencintai kebijaksanaan. Kata tersebut juga berasal dari bahasa yunani philosophy, Ada pula yang mengatakan filsafat berasal dari bahasa arab falsafah yang artinya hikmah.[1] Dengan demikian filsafat bisa diartikan " cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Suka kepada hikmah dan kebijaksanaan.jadi orang yang berfilsafat adalah orang yang mencintai kebenaran, ahli hikmah dan bijaksana.[2]

Selanjutya kata filsafat yang banyak terpakai dalam bahasa indonesia, menurut prof. Dr. harun Nasution bukan berasal dari kata arab falsafah dan bukan pula dari kata Barat philosophy. Disini dipertanyakan tentang apakah fil diambil dari kata Barat dan safah dari bahasa Arab, sehingga terjadi gabungan antara keduanya dan menimbulkan kata filsafat?

Dari pengertian secara Etimologi itu, ia memberikan definisi filsafat sebagai berikut:[3]

- Pengetahuan tentang hikmah
- Pengetahuan tentang prinsip atau dasar-dasar
- Mencari kebenaran
- Membahas dasar-dasar dari apa yang dibahas

Filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalanya.

Adapun pengertian filsafat menurut beberapa ahli yaitu sebagai berikut: [4]

Pertama,  Plato, mengatakan bahasa filsafat tidaklah lain dari pada pengetahuan tentang segala yang ada
Kedua,  Aristoteles, berpendapat bahwa kewajiban filsafat ialah menyelidiki sebab dan asal segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu yang umum sekali.
Ketiga, Kant, mengatakan bahwa filsafat adalah pokok dan pangkal ssegala pengetahuan dan pekerjaan.
Keempat,  Fichte, menyebut filsafat sebagai Wissenschaftslehre: ilmu dari ilmu-ilmu yakni ilmu yang umum, yang menjadi dasar segala ilmu.
Kelima, Ibnu Sina, membagi filsafat dalam dua bagian, yaitu teori dan praktek, yang keduanya berhubungan dengan agama, di mana dasarnya terdapat dalam syari'at tuhan, yang penjelasan dan kelengkapanya diperoleh dengan tenaga akal manusia.

Maka dari pengertian-pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa filsafat adalah proses pencarian kebenaran dengan cara menelusuri hakikat dan sumber kebenaran secara logis, kritis, rasional, dan spekulatif. Alat yang digunakan untuk mencari kebenaran adalah akal yang merupakan sumber utama dalam berpikir. Dengan demikian, kebenaran filosofis adalah kebenaran berpikir yang rasional, logis, sistematis, kritis, radikal, dan universal.

Adapun yang dimaksud dengan filsafat pendidikan adalah sebagaimana yang diungkapkan al-Syaibany, filsafat pendidikan adalah aktivitas pikiran yang teratur, yang menjadikan filsafat sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan. Artinya, filsafat pendidikan dapat menjelaskan nilai-nilai maklumat yang diupayakan untuk pengalaman kemanusiaan merupakan faktor yang integral.[5] Sedangkan menurut Imam Barnadib filsafat pendidikan merupakan ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan. Baginya filsafat pendidikan merupakan aplikasi suatu analisis filosofis terhadap bidang pendidikan.

Untuk mendapatkan pengertian filsafat pendidikan yang lebih jelas, ada baiknya kita melihat beberapa konsep mengenai pengertian pendidikan itu sendiri. Kalau kita perhatikan pengertian yang luas dari pendidikan sebagaimana yang dikemukakan oleh lodge, yaitu " life is education" akan berarti bahwa seluruh proses hidup ini adalah proses pendidikan. Selanjutnya dalam artinya yang sempit Lodge menjelaskan pengertian pendidikan mempunyai fungsi yang terbatas, yaitu memberikan dasar dasar dan pandangan hidup kepada generasi yang sedang tumbuh, yang dalam prakteknya identik dengan pendidikan formal di sekolah dan dalam situasi dan kondisi serta lingkungan belajar serba terkontrol. Dan pendidikan formal hanyalah bagian kecil saja daripadanya. Tetapi merupakan inti dan tidak bisa lepas kaitanya dengan proses pendidikan secara keseluruhan.[6]

B. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan
Filsafat adalah study secara kritis mengenai masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan manusia dan merupakan alat dalam mencari jalan keluar yang terbaik agar dapat mengatasi permasalahan hidup dan hidup yang dihadapi. Filsafat bertujuan memberikan pengertian yang dapat diterima oleh manusia mengenai konsep-konsep hidup secara ideal dan mendasar bgai manusia agar mendapatkan kebahagiaan.[7]

Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa ruang lingkup filsafat adalah semua lapangan pemikiran manusia yang komperhensif. Baik material konkret mapun non material abstrak. Jadi, obyek filsafat itu tidak terbatas. Secara makro, apa yang terjadi objek pemikiran filsafat yaitu permasalahan kehidupan manusia, alam semesta dan alam sekitarnya, namun secara mikro, ruang lingkup filsafat pendidikan meliputi:

1. Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan
2. Merumuskan sifat hakikat manusia, sebagai subjek dan objek pendidikan
3. Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan kebudayaan
4. Merumuskan sistem nilai norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pendidikan
5. Merumuskan hubungan antara filsafat Negara (ideology), filsafat pendidikan, dan politik pendidikan (sistem pendidikan)

Dengan demikian, dari uraian di atas diperoleh suatu kesimpulan bahwa yang menjadi ruang lingkup filsafat pendidikan itu ialah semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan itu sendiri

Keberadaan filsafat berbeda dengan ilmu. Ilmu ingin mengetahui sebab dan akibat dari sesuatu. Sementara filsafat tidak terikat pada satu ketentuan dan tidak mau terkurung dalam satu ruang saja. Filsafat ingin memperoleh realitas mengenai apa hakikat benda, dari mana asal-usulnya, dank e mana tujuan akhirnya.[8]

C. Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan

Untuk mengenal perkembangan pemikiran dunia filsafat pendidikan dibawah ini akan diuraikan garis-garis besar aliran filsafat dalam pendidikan:[9]

1. Aliran Proggressivisme
Aliran proggressivisme adalah aliran filsafat yang sangat berpengaruh dalam abad ke 20 ini. aliran ini dihubungkan dengan pandangan liberal. Yang dimaksud adalah pandangan hidup yang mempunyai pandangan fleksibel, curious dan open mined. Aliran ini meyakini bahwa manusia mempunyai kesanggupan-kesanggupan untuk mengendalikan hubunganya dengan alam. Sanggup meresapi rahasia-rahasia alam, sanggup menguasai alam.

2. Filsafat Pendidikan Idealisme
Filsafat idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi.

Aliran ini menegaskan bahwa hakikat kenyataan adalah ide sebagai gagasan kejiwaan. Apa yang dianggap realitas hanyalah bayangan atau refleksi dari ide sebagai kebenaran berfilsafat spiritual atau mental.ide sebagai gagasan kejiwaan itulah sebagai kebenaran atau nilai sejati yang absolute dan abadi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali.

3. Filsafat Pendidikan Realisme
Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dn mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill

4. Filsafat Pendidikan Materialisme
Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach.

5. Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos.

6. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Filsafat ini memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini : Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich.

7. Filsafat Pendidikan Progresivisme
Progresivisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatugerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff.

D. Hubungan Filsafat dalam Pendidikan

Hubungan antara filsafat dan filsafat pendidikan menjadi sangat penting sekali, sebab ia menjadi dasar, arah, dan pedoman suatu sistem pendidikan. Filsafat pendidikan adalah aktivitas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan, mengharmoniskan dan menerangkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapai. Jadi, terdapat kesatuan yang utuh antara filsafat, filsafat pendidikan, dan pengalaman manusia.

Filsafat menetapkan ide-ide, idealisme, dan pendidikan merupakan usaha dalam merealisasikan ide-ide tersebut menjadi kenyataan, tindakan, tingkah laku, bahkan membina kepribadian manusia. Kilpatrik mengatakan, berfilsafat dan mendidik adalah dua face dalam satu usaha; berfilsafat ialah memikirkan dan mempertimbangkan nilai-nilai dan cita-cita yang lebih baik, sedangkan mendidik ialah usaha mereliasasikan nilai-niali dan cita-cita itu dalam kehidupan, dalam kepribadian manusia. Mendidik ialah mewujudkan nilai-nilai yang dapat disumbangkan filsafat, dimulai dengan generasi muda, untuk membimbing rakyat, membina nilai-nilai dalam kepribadian mereka, demi menemukan cita-cita tertinggi suatu filsafat dan melembagakannya dalam kehidupan mereka.

Lebih lanjut, Burner dan Bruns mengatakan secara tegas bahwa tujuan pendidikan adalah tujuan filsafat yaitu untuk membimbing ke arah kebijaksanaan. Oleh kerena itu, dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah reliasi dari ide-ide filsafat; filsafat memberi asas kepastian bagi peranan pendidikan sebagai wadah pembinaan manusia yang telah melahirkan ilmu pendidikan, lembaga pendidikan dan aktivitas pendidikan. Jadi, filsafat pendidikan merupakan jiwa dan pedoman dasar pendidikan.

Dari uraian di atas, diperoleh hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan berikut:[10]
Pertama,  Filsafat, dalam arti filosofis, merupakan satu cara pendekatan yang dipakai dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori-teorinpendidikan oleh para ahli.
Kedua,  Filsafat, berfungsi memberi arah begi teori pendidikan yang telah ada menurut aliran filsafat tertentu yang memiliki relevansi dengan kehidupan yang nyata.
Ketiga,  Filsafat, dalam hal ini filsafat pendidikan, mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan.

E. Pancasila Sebagai Filsafat Pendidikan Nasional

Dalam ketetapan MPR Nomor 11/MPR/1978, pancasila adalah jiwa dan seluruh rakyat indonesia, pandangan bangsa indonesia dan dan dasar Negara. Di samping menjadi tujuan bangsa indonesia. Oleh karena itu kita perlu memahami dan menghayati dan mengamalkan pancasila dalam segi kehidupan. Pancasila di sisni yang dimaksudkan adalah pancasila yang dirumuskan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang terdiri dari 5 sila. Dengan begitu, pada dasarnya masyarakat indonesia telah melaksanakan pancasila, walaupun sifatnya masih merupakan kebudayaan.[11]

Dalam kehidupan suatu bangsa, pendidikan memang mempunyai peranan yang sangat penting untuk menjamin perkembangan dan kelanggsungan kehidupan suatu bangsa. Menurut aristoteles, tujuan pendidikan sama halnya dengan tujuan didirikanya suatu Negara. Pendidikan selai sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan, sosial budaya, juga merupakan saran mewariskan ideology bangsa kepada generasi selanjutnyayang bisa dilakukan melalui pendidikan. Dengan demikian jelaslah tidak mungkin sistem pendidikan nasional dijiwai dan didasari oleh sistem filsafat pendidikan yang lain selain pancasila.

Pancasila adalah dasar Negara Indonesia yang merupakan fungsi utamanya dan dari segi materinya digali dari pandangan hidup dan kepribadian bangsa. Dari sini dapat kita ketahui bahwa pancasila merupakan dasar Negara yang membedaka dengan Negara lain.

Filsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran sesuatu. Sementara filsafat pendidikan adalah pemikiran yang mendalam tentang kependidika berdasarkan filsafat. Bila kita hubungkan fungsi pancasila dengan sistem pendidikan ditinjau dari filsafat pendidikan, maka dapat kita jabarkan bahwa pancasila adalah pandangan hidup bangsa yang menjiwai sila-silanya dalam kehidupan sehari-hari. Dan untuk menerapkan sila-sila Pancasila maka diperlukan pemikiran yang sungguh-sungguh mengenai bagaimana nilai-nilai pancasila itu dilaksanakan. Dalam hal ini tentunya pendidikan yang menjadi peran utama. Sebagai contoh, dalam pancasila terdapat terdapat sila ketuhanan yang maha Esa. Dalam pelaksanaan pendidikan, tentunya sila pertama ini akan diberikan kepada siswa sebagai pelajaran pokok yang mesti diamalkan.[12] Oleh karena itulah, sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi, pelajaran pancasila masih diberikan, agar nilai-nilai pancasila benar-benar diamalkan dalam kehidupan

Kesimpulan
filsafat pendidikan adalah aktivitas pikiran yang teratur, yang menjadikan filsafat sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan. Artinya, filsafat pendidikan dapat menjelaskan nilai-nilai maklumat yang diupayakan untuk pengalaman kemanusiaan merupakan faktor yang integral.[13] Sedangkan pendapat lain mengatakan filsafat pendidikan merupakan ilmu yan pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan. Baginya filsafat pendidikan merupakan aplikasi suatu analisis filosofis terhadap bidang pendidikan.

Dalam kehidupan suatu bangsa, pendidikan memang mempunyai peranan yang sangat penting untuk menjamin perkembangan dan kelanggsungan kehidupan suatu bangsa. Menurut aristoteles, tujuan pendidikan sama halnya dengan tujuan didirikanya suatu Negara. Pendidikan selai sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan, sosial budaya, juga merupakan saran mewariskan ideology bangsa kepada generasi selanjutnyayang bisa dilakukan melalui pendidikan. Dengan demikian jelaslah tidak mungkin sistem pendidikan nasional dijiwai dan didasari oleh sistem filsafat pendidikan yang lain selain pancasila. Pancasila adalah dasar Negara Indonesia yang merupakan fungsi utamanya dan dari segi materinya digali dari pandangan hidup dan kepribadian bangsa. Dari sini dapat kita ketahui bahwa pancasila merupakan dasar Negara yang membedaka dengan Negara lain.

Filsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran sesuatu. Sementara filsafat pendidikan adalah pemikiran yang mendalam tentang kependidika berdasarkan filsafat. Bila kita hubungkan fungsi pancasila dengan sistem pendidikan ditinjau dari filsafat pendidikan, maka dapat kita

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi,Asmoro. filsafat Umum, jakarta: PT RajaGrafindo Persada 2012
Zuhairini. filsafat pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara 1995
AM,Suhar. Filsafat Umum, Jakarta: persada press 2009
Jalaluddin, Idi Abdullah. filsafat pendidikan, Jakarta: PT RajaGrafindo 2013
Salahudin Anas filsafat pendidikan, Bandung:Pustaka Setia 2011
Soemargono,Soejono. Pengantar Filsafat Yogya:Tiara Wacana 2004
Alwasilah,A.Chaedar. filsafat bahasa dan pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya 2008
Sumarna, Cecep. filsafat ilmu dari hakikat menuju nilai Bandung: Pustaka Bani Quraisy 2006
S. Surisumantri, Jujun. filsafat ilmu sebuah pengantar populeR, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan 1985
Noorsyam, M. Pengantar Filsafat Pendidikan, Malang: IKIP 1978

[1] Jujun S. Surisumantri filsafat ilmu sebuah pengantar populer ( Jakarta: Pustaka Sinar Harapan 1985) hal.20
[2] Asmoro Ahmadi filsafat Umum, ( jakarta: PT RajaGrafindo Persada 2012) hal. 1
[3] Zuhairini filsafat pendidikan, ( jakarta: Bumi Aksara 1995) hal. 4
[4] Suhar AM Filsafat Umum, (Jakarta: persada press 2009) hal. 9-10
[5] Jalaluddin, Abdullah Idi filsafat pendidikan, (Jakarta: PT RajaGrafindo 2013) hal.6-7
[6] Anas Salahudin filsafat pendidikan, ( Bandung:pustaka Setia 2011) hal. 24
[7] A.Chaedar Alwasilah filsafat bahasa dan pendidikan, (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA 2008) hal. 15
[8] Soejono Soemargono Pengantar Filsafat ( Yogya:Tiara Wacana 2004) hal. 5
[9] Ibid. 76
[10] M. Noorsyam, pengantar filsafat pendidikan ( Malang: IKIP 1978) hal. 13
[11] Ibid. 169-170
[12] Cecep Sumarna filsafat ilmu dari hakikat menuju nilai ( Bandung: Pustaka Bani Quraisy 2006) hal. 10
PERHATIAN:Jika anda ingin bertanya atau bantuan bisa kontak kami
contact atau 089677337414 - Terima kasih.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui
Buka Komentar
Tutup Komentar
Close Disqus
Close Translate