Skip to main content

Contoh dan Cara Mengidentifikasi Masalah Pada Penelitian, Skripsi, dan PTK



www.azid45.web.idContoh dan Cara Mengidentifikasi Masalah Pada Penelitian, Skripsi, dan PTK. Pada umumnya, masalah timbul karena adanya kesenjangan antara kenyataan dan yang seharusnya (harapan), misalnya kita mengharapkan bahwa para peserta didik memperoleh nilai atau skor rata-rata 75 dalam suatu ulangan, ternyata skor rata-rata yang dicapai oleh para peserta didik sebesar 50. Hal ini berarti ada kesenjangan, rendahnya perolehan skor rata-rata tersebut dapat menjadi suatu masalah, karena untuk mencapai kelulusan mereka harus mendapatkan skor minimal, misalnya 65[1]. Masalah juga dapat timbul dari isu-isu yang kemudian diidentifikasi, dalam arti apakah masalah tersebut memang penting untuk diteliti, apakah masalah tersebut aktual (sedang hangat dibicarakan) dan krusial (mendesak untuk diteliti).[2] 

Identifikasi masalah merupakan kegiatan untuk mendeteksi, melacak, dan menjelaskan berbagai aspek permasalahan yang berkaitan dengan topic penelitian dan masalah yang akan diteliti.[3] Contoh identifikasi masalah masalah dari judul “Penerapan Pendekatan Partisipatif Dalam Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Siswa Kelas VIII SMP Negeri Panyawangan Bandung Tahun 2009”. Dari judul tersebut, sedikitnya dapat diidentifikasikan tujuh masalah sebagai berikut:

  1. Rendahnya prestasi belajar bahasa Inggris.
  2. Rendahnya motivasi siswa.
  3. Pembelajaran bahasa Inggris belum komunikatif.
  4. Belum ditemukan strategi pembelajaran yang efektif.
  5. Belum ada kolaborasi antara guru dan peserta didik.
  6. Pendekatan yang digunakan masih konvensional.
  7. Pendayagunaan sumber belajar belum optimal.[4]

Mengidentifikasi masalah bukan hal yang mudah dan bahakan mungkin dapat dianggap sebagai sesuatu pekerjaan yang paling sulit dalam suatu proses penelitian. Mengidentifikasi masalah-masalah penelitian bukan sekadar mendaftar sejumlah masalah, tetapi kegiatan ini lebih daripada itu karena masalah yang telah dipilih hendaknya menmiliki signifikansi untuk dipecahkan. Berdasarkan identifikasi terhadap masalah-masalah, maka seseorang harus menemukan dan membatasi masalah tersebut baik masalah itu bersifat umum maupun bersifat khusus.[5] 

Suatu masalah yang dipilih harus memiliki kriteria, adapun kriteria memilih masalah menurut Tuckman harus memiliki ciri-ciri khusus (karakteristik) sebagai berikut:

  1. Masalah menanyakan hubungan antara dua atau lebih variabel.
  2. Masalah dinyatakan atau dirumuskan secara jelas dan tidak ambigius.
  3. Masalah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.
  4. Masalah itu dapat diuji melalui metode empiris, artinya adanya kemungkinan pengumpulan data untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan.
  5.  Masalah tidak menyangkut moral dan etika.[6]

Menurut Fraenkel dan Wallen, masalah yang baik utnuk dijadikan bahan penelitian harus memenuhi syarat sebagai berikut: 

1. Fesible yaitu harus dapat dicari jawabannya dengan sumber yang jelas, dan tidak banyak menghabiskan dana, tenaga, serta waktu.
2. Ekplisit yaitu semua orang memberikan persepsi yang sama terhadap masalah itu atau semua orang menganggap bahawa itu adalah masalah.
3. Etis yaitu tidak berkenaan dengan hal-hal yang bersifat etika, moral, dan nilai-nilai keyakinan dan agama.[7]

Masalah atau permasalahan yang ada di lingkungan sehari-hari cukup banyak, untuk itu diharapkan bagi peneliti mampu mengidentifikasi, memilih, merumuskan dan kemudian menentukan tipologi penelitiannya secara tepat. Beberapa sumber masalah dapat diperoleh dari:

  1. Literature yang meliputi: buku, buku teks, monography, laporan statistic, dan yang berupa non buku seperti: jurnal, skripsi, tesis, dan detertasi.
  2. Berbagai pertemuan ilmiah, seperti: seminar, diskusi, lokakarya, dan sarasehan.
  3. Pengalaman pribadi, dan pengamatan yang bersifat longitidunal.
  4. Perasaan intuitif.[8]

Dalam pelaksanaannya, PTK diawali dengan mendiagnosis masalah, yaitu kesadaran sebagai guru akan permasalahan yang dirasakan atau dianggap mengganggu dan menghalangi pencapaian tujuan pendidikan sehingga ditengarai telah berdampak kurang baik terhadap proses atau hasil belajar siswa, dan implementasi program sekolah.

Masalah-masalah di kelas yang perlu dicermati guru dapat berkaitan dengan masalah pengelolaan kelas, proses belajar mengajar, penggunaan sumber-sumber belajar, serta masalah personal dan keprofesioanalan guru.

Konflik timbul antara guru dan siswa karena peran yang berbeda menimbulkan kebutuhan yang berbeda dan karena individu memiliki tujuan dan minat yang berbeda. Dalam situasi kelas yang ramai, persinggungan akan terjadi, dan para individu bisa mendapati diri mereka aneh satu dengan yang lain. Jika konflik muncul, guru membutuhkan sebuah cara untuk mengelolanya secara konstruktif sehingga pengajaran dan pemelajaran dapat berlanjut dalam iklim ruang kelas yang mendukung. 

Dari sekian banyak kemungkinan masalah yang ditemukan, guru perlu mendiagnosis masalah apa atau masalah mana yang perlu diprioritaskan pemecahannya dalam penelitian yang akan dilakukan.

Salah satu sarana yang efektif untuk mencapainya ialah proses pemecahan masalah yang di dalamnya guru bekerja dengan siswa untuk mengembangkan sebuah rencana atau mengurangi dan menghilangkan masalah.

Tahapan dalam proses pemecahan masalah meliputi:[9]

  1. Mengidentifikasi masalah
  2. Membahas solusi alternatif 
  3. Mendapatkan komitmen untuk mencoba salah satu dari solusi ini

Tergantung pada keadaan, pemecahan masalah mungkin meliputi usaha untuk mengidentifikasi sebab dari masalah ini dan mungkin menjelaskan akibat dari mengikuti atau tidak mengikuti rencana tersebut. 

Penetapan masalah hendaknya dilakukan setelah menganalisis seluruh pilihan masalah, minat, dan keinginan guru untuk memecahakan salah satu atau beberapa diantaranya. Penetapan masalah ini ditandai dengan penentuan permasalahan yang akan diteliti dan perumusan fokus masalahnya.

Rumusan fokus masalah yang mungkin ditetapkan guru dapat berupa sebagai berikut:

  1. Bagaimana membelajarkan siswa materi tertentu agar siswa mau dan mampu belajar?
  2. Bagaimana memilih strategi pembelajaran yang paling tepat untuk membelajarkan materi tertentu?
  3. Bagaimana melaksanakan pembelajaran kooperatif?
  4. Bagaiman meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk belajar?
  5. Media belajar apa yang dapat mempercepat keterampilan anak pada materi pembelajaran tertentu? Dan lain-lain.

Terkait dengan pemfokusan masalah ini, Striger (2004) memberikan arahan sebagai berikut:[10]

1. Isu atau topik yang ingin diteliti
Deskripsikan apa isu atau peristiwa yang menimbulkan permasalahan
2. Masalah penelitian 
Nyatakan isu sebagai sebagai suatu masalah
3. Rumusan masalah 
Tuliskan masalah dalam bentuk pertanyaan 
4. Tujuan penelitian
Deskripsikan apa yang diharapkan dapat diperoleh dengan meneliti masalah ini

Contoh:
- Isu: Siswa kurang aktif di kelas, cenderung tidak pernah mengajukan pertanyaan dalam pembelajaran. Guru sering memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya, tapi hampir tidak ada siswa yang bertanya.
- Masalah: Siswa perlu digalakkan untuk aktif dalam kelas, aktif secara utuh.
- Fokus masalah: bagaimana meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas?
- Rumusan masalah: masalah apa yang terjadi di dalam kelas, bagaimana upaya
mengatasinya, apa tindakan yang dianggap tepat untuk itu, di kelas, dan sekolah mana hal itu terjadi?
- Tujuan Penelitian: meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas.

Dalam mengidentifikasi masalah dapat dimulai diskusi dengan menyatakan tujuan dari pertemuan tersebut dan meminta siswa untuk mengespresikan sudut pandangnya. Mendapatkan pandangan siswa memberikan informasi yang yang bermanfaat dan dapat mengukur tingkat kerja sama dan pemahaman siswa mengenai situasi tersebut.

Salah satu pembukaan alternatif adalah menjelaskan masalah itu dan meminta reaksi dari siswa. Alternatif ini terutama diperlukan ketika menangani anak-anak yang lebih muda usianya, dengan siswa yang memiliki keterampilan verbal yang terbatas, dan dengan siswa yang suka menghindar dan mengelak kecuali siswa yang mudah bekerja sama.

Glasser (1975), menyarankan meminta siswa untuk mengevaluasi apakah perilaku mereka membantu atau menyakiti mereka atau memiliki efek yang baik atau buruk. Logikanya adalah bahwa seorang siswa yang memahami dan mengakui bahwa sebuah perilaku memiliki akibat yang negatif lebih mungkin turut serta dalam pencarian solusi dalam berkomitmen pada solusi tersebut. Tapi seorang siswa yang menolak tanggung jawab atau tidak melihat adanya efek yang membahayakan, maka akan jarang melakukan komitmen yang penting untuk berubah.

[1] Punaji Setyasari, Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan, (Jakarta: Kencana, 2010), hal.53
[2] Zainal Arifin, Penelitian Pendidikan Metode dan Paradigma Baru, (Bandung: Rosda Karya, 2012), hal.56
[3] Emulyasa, Praktik Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: Rosda Karya, 2010), hal.61
[4] Ibid, hal.62
[5] Punaji Setyasari, Op.Cit, hal.53
[6] Ibid,.
[7] Mahi M. Hikmat, Metode Penelitian: Dalam Perspektif ilmu Komunikasi dan Sastra, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011), hal.22
[8] M. Djunaidi Ghony, Metodelogi Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, (Malang: UIN-Malang Press, 2009), hal.51
[9] Carolyn M. Evertson dan Edmund T. Emmer, Manajemen Kelas Untuk Guru Sekolah Dasar Edisi Kedelapan, (Jakarta: Kencana, 2011), hal. 212
[10] Masnur Muslich, Melaksanakan PTK Itu Mudah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), hal. 19
PERHATIAN:Jika anda ingin bertanya atau bantuan bisa kontak kami
contact atau 089677337414 - Terima kasih.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui
Buka Komentar
Tutup Komentar
Close Disqus
Close Translate