Pengetahuan dan Kekuasaan Michel Foucault Terhadap Teori Diskursus


www.azid45.web.id - Pengetahuan dan Kekuasaan Michel Foucault Terhadap Teori Diskursus. Pemikiran Foucault yang utama adalah penggunaan analisis diskursus untuk memahami kekuasaan yang tersembunyi di balik pengetahuan. Analisisnya terhadap kekuasaan dan pengetahuan memberikan pemahaman bahwa peran pengetahuan pembangunan telah mampu melanggengkan dominasi terhadap kaum marjinal. Ia mencontohkan bahwa pembangunan di negara Dunia Ketiga merupakan tempat berbagai kekuasaan dunia sekaligus adanya hubungan penting tentang berperanannya kekuasaan di negara-negara tersebut. Dalam karyanya tentang A Critique of Our Historical Era, Foucault melihat ada problematika dalam bentuk modern pengetahuan, rasionalistik, institusi sosial, dan subyektifitas. Semua itu, menurutnya terkesan given and natural, tetapi dalam faktanya semua itu adalah "serombongan konstruk sosiokultural tentang kekuasaan dan dominasi". Menurut argumennya bahwa hubungan antara bentuk kekuasaan modern dan pengetahuan modern telah menciptakan bentuk domniasi baru. Bagi Foucault, selain eksploitasi dan dominasi, ada satu bentuk yang diakibatkan oleh suatu diskursus, yakni subjection (bentuk penyerahan seseorang pada orang lain sebagai individu, seperti pasien pada psikiater).

Oleh Karena itu, yang perlu dipelajari adalah upaya untuk membangkitkan kembali locad centres dari power knowledge, pola transformasinya, ada upaya untuk masukkan ke dalam strategi dan akhirnya menjadikan pengetahuan mampu mensupport kekuasaan. Menurut pemikirannya, bahwa setiap strategi yang mengabaikan berbagai bentuk power tersebut maka akan terjadi kegagalan. Untuk melipatgandakan power, harus berusaha bertahan dan melawan dengan jalan melipatgandakan resistensi dan kontra-ofensif. Localize-resistence tersebut haruslah bersifat radikal dan tanpa kompormi untuk melawan totalitas kekuasaan (dari pada memakai cara revolusi massa), dengan strategi yang ditujukan untuk mengembangkan jaringan keja perjuangan, kantong-kantong resistensi dan popular base. Yang perlu mendapat perhatian adalah analisis power tertentu (antar individu, kelompok, kegiatan dan lain-lain) dalam rangka mengembangkan knowledge strategies dan membawa ksema baru politisi, intelektual, buruh dan kelompok tertindas lainnya, diman power tersebut akan digugat.

Michel Foucault menjelaskan definisi fenomenal dari wacana beserta dengan potensi politisi dan kaitannya dengan kekuasaan "Diskursus atau wacana adalah elemen taktis yang beroperasi dalam kancah relasi kekuasaan".[1] Antara wacana dan kekuasaan memiliki hubungan timbal balik, seperti yang dikatakan Foucault, "Elemen Taktis" ini sangat terkait dengan kajian strategis dan politis, tetapi tentu saja istilah politik disini tidak selalu berarti faktor-faktor pemerintahan, segala sesuatu yang menghegemoni baik itu secara kultural maupun secara ideologi sebenarnya memiliki konstruksi politsi sendiri.

Dari definisi yang diberikan Foucault, terungkap bahwa wacana adalah alat bagi kepentingan kekuasaan, hegemoni, dominasi budaya dan ilmu pengetahuan. Distribusi wacana ketengah masyarakat pada era post-modern ini, dilaksanakan secara strategis melalui media, baik itu media cetak maupun elektronik. Raman Selden memberikan penjelasan tentang pemikiran Foucault "Terbukti sudah bahwa kekuasaan atau dominasi tertentu ditegakkan dan dilaksanakan melalui wacana, dan sebuah kekuasaan jelas memiliki pengaruh".[2] Suatu dominasi atau hegemoni tertentu menggunakan wacana sebagi "elemen takts" untuk mempengaruhi pola pikir masyarakat, ini semua terkait dengan pembangunan sebuah dominasi dan pelestarian kekuasaan.

Selanjutnya Michel Foucault kembali menambahkan bahwa wacana atau diskursus sangat berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh sebagian orang, dimana keberagaman wacana masih dianggap terikat oleh kelas-kelas tertentu dalam masyarakat.

Kita seharusnya tidak menganggap dunia wacana itu terpisah-pisah antara mana wacana yang diterima secara sosial dan mana yang ditolak, atau pengkelasan wacana seperti ada wacana dominan dan ada pula wacana yang termaginalkan, akan tetapi sebenarnya segala bentuk kompleksitas wacana atau diskursus adalah marupakan elemen-elemen yang sering dibicarakan dan sering muncul dalam kehidupan, dimana itu semua bermain secara strategis.[3]

Disini Foucault menjabarkan bahwa keseluruhan diskursus memiliki potensi strategis, baik itu wacana dominan maupun tidak. Bahkan Foucault juga mencoba mengeliminir pengekelasan diskursus ini. Hal itu disebabkan karena setiap wacana atau diskursus bisa bermain secara strategis, berdasarkan kepentingan tertentu.

Wacana secara sosial didistribusikan ke tengah masyarakat, dan wacana-wacana tersebut membawa beragama ideologi, pada akhirnya bertujuan untuk mempengaruhi masyarakat yang menjadi objek dari proses penyebaran wacana itu. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa melihat bagaimana iklan-iklan dari produk pemutih kulit membawa ideologi rasisme, yaitu putih itu cantik, baik, sehat, dan bagus, sedangkan kulit tidak putih (coklat, sawo matang, hitam) itu jelek, buruk dan tidak sepantasnya ada seorang wanita berkulit hitam.

Dalam hal ini, peranan iklan produk pemutih tersebut secara strategis adalah untuk mempernetrasikan ideologi rasisme, sihingga akan membentuk opini public. Opini public yang sesuai dengan ideologi rasisme itu, akan menguntungkan produsen produk pemutih kulit. Padahal konsep cantik atau jelek itu secara konstekstual jelas adalah sangat relative. Akan tetapi hal ini sepertinya disembunyikan oleh iklan-iklan tersebut, disinilah strategi produsen kosmetik (agen kapitalisme) dalam memainkan wacana. Foucault menegaskan bahwa distribusi wacana atau diskursus adalah hal yang harus kita kaji ulang, terutama terkait dengan hal-hal yang disampaikan dan hal-hal yang disembunyikan.

Dalam pembahasan Cricital Disourse Analysis, atau disebut juga Analisa wacana Kritis, Teun Van Djik menjelaskan dasar teorinya yang lebih terfokus pada upaya untuk menggali peranan dan fungsi diskursus, dalam proses produksi kekuasaan tertentu: salah satu dasar pemikiran dari Critical Disourse Analyssis adalah memahami sifat-sifat kekuasaan (hegemoni) atau pengaruh sosial, serta dominasinya. Ketika kita telah memiliki pemahaman terhadap hal tersebut, maka saatnya untuk memformulasikan ide-ide tentang bagaimana diskursus atau wacana berperan dalam reproduksi kekuasaan dan dominasi tersebut.[4] 

Sebenarnya kit bisa melihat banyak kesamaan antara kajian Analisis Wacana Kritis dengan New Functionalism, disini Van Djik menetapkan folkus kajiannya pada peranan strategis wacana dalam proses distribusi dan reproduksi pengaruh hegemoni atau kekuasaan tertentu. Terkait dengan hal ini, kita bisa melihat contoh wacana rasisme yang dibawa iklan produk pemutih kulit, dalam hal ini iklan-iklan tersebut berperan dalam melestarikan hegemoni kapitalisme.

Salah satu elemen penting dalam proses analisa terhadap relasi kekuasaan (hegemoni) dengan wacana adalah pola-pola akses terhadap wacana public yang tertuju pada kelompok-kelompok masyarakat. Secara teoritis bisa dikatakan, supaya relasi antara suatu hegemoni dengan wacana bisa terlihat dengan jelas, maka kita membutuhkan hubungan kognitif dari bentuk-bentuk masyarakat, ilmu pengetahuan, ideologi dan beragam representasi sosial lain yang terkait dengan pola pikir sosial, hal ini juga mengaitkan individu dengan masyarakat, serta structural sosial mikro dengan makro.[5]

Berdasarkan kutipan diatas, Van Djik menjelaskan bahwa teori Analisa Wacana Kritis memliki aspek pembahasan yang sangat luas, seperti model-model masyarakat dan pola pikirnya, ideologi masyarakat, nilai-nilai sosial dan lain-lain. Semua itu difokuskan pada satu kerangka pokok kajian, yaitu relasi antara wacana (diskursus) dan kekuasaan (hegemoni). Beragam representasi sosial adalah menjadi target bagi sebuah wacana yang digerakkan oleh suatu hegemoni tertentu, contohnya seperti keapitalisme, kekusaan politik pemerintah, penetrasi ideologi, serta berbagai bentuk ilmu pengetahuan.

Dalam hal ini wacana menjadi alat kepentingan yang berujung pada pelestarian suatu dominasi. Tujuan penggunaan wacana bagi suatu kekuasaan adalah untuk mempengaruhi objek yang dikuasai. Setiap wacana membawa ideologi, pada akhirnya wacana akan berperan sebagai distributor ideologi tersebut, selanjutnya ideologi itu akan mempengaruhi beragam bentuk representasi sosial dalam masyarakat.

Lebih lanjut Van Djik menjelaskan: cara membahas pertanyaan dan dimensi seperti ini adalah dengan memfokskan pada peranan diskursus (wacana) dalam proses produksi suatu dominasi, serta dalam mengkaji tantangan bagi dominasi tersebut. Dominasi didefinisikan disini sebagai pelaksanaan kekuasaan atau pengaruh sosial oleh elit, institusi atau group masyarakat tertentu, yang menghasilkan ketidaksetaraan sosial, seperti dalam bidang politik, budaya, etnis, ras dan ketidaksetaraan gender. Proses penciptaan ketidaksetaraan seperti ini melibatkan penggunaan hubungan diskursus dan kekuasaan (pengaruh) yang berbeda dan bervariasi secara langsung, penolakan, dan usaha untuk menyembunyikan atau menutupi suatu dominasi terhadap komunitas masyarakat lain. Secara lebih spesifik, para kritikus atau analis wacana memiliki tujuan untuk membongkar struktur dan strategi yang digunakan dalam teks, pembicaraan, interaksi verbal atau hal-hal komunikatif yang memainkan peranan dalam prosses reproduksi, atau penciptaan dominasi dan ketidaksetaraan ini.[6]

Wacana-wacana yang dimotori oleh kekuasaan tertentu berpulang membentuk ketidaksetaraan atau ketidakadilan sosial. Contoh yang paling sederhana bisa kita lihat pada iklan produk kosmetik pemutih kulit yang telah saya singgung diatas. Dimana kekuasaan kapitalisme produsen produk ini, telah menciptakan wacana rasisme melalui iklan yang dipasang pada media elektronik dan media cetak, kemudian wacana tersebut berpotensi membentuk ideologi sosial masyarakat yang nantinya berujung pada ketidaksetaraan sosial, yaitu orang berkulit putih memiliki kelas yang lebih tinggi dan lebih baik dari orang berkulit tidak putih.

Lebih lanjut, Giovanna Borradori memberikan sedikit 'sense' kajian Dekontruksi padan analisa wacana, 'Dekontruksi mencoba membedah setiap diskursus (wacana) yang tegak sebagai sebuah konstruksi'.[7] Saya melihat ini sebagai sedikit modifikasi yang lebih terfokus dari dekontruksi Derrida, dimana Derrida tidak pernah menyebut istilah wacana, dan lebih memilih untuk membahaskan segala sesuatu itu sebagai teks filosofis, sedangkan Borradori tampak lebih spesifik dengan mempergunakan istilah wacana atau diskursus. Seperti halnya karakteristik dekonstruksi yang memposisikan segala sesuatu sebagai teks yang memiliki konstruksi, dalam pembahasan Borradori, wacana juga diposisikan demikian. Konstruksi inilah yang memungkinkan proses dekontruksi bisa terlaksana. Hal ini disebabkan karena setiap konstruksi wacana memiliki konstradiksi internal yang tersembunyi, ketika praktek dekonstruksi yang bertujuan membongkar kontradiksi ini dilakukan, maka hierarkhi dari konstruksi tersebut akan terjungkal balik.

Kembali lagi ke contoh yang paling simple tadi, yaitu iklan pemutih kulit diatas. Sebagai sebuah konstruksi wacana, iklan ini memiliki kontradiksi internal yang tidak kentara, yaitu tentang relativitas konsep cantik. Konstruksi wacana iklan ini membawa ideologi rasis, bahwa wanita berkulit putih itu cantik sedangkan wanita berkulit tidak putih itu jelek, disinilah letak kontradiksi itu, dimana konsep putih itu cantik hanyalah berdasarkan pada konvensi kultural masyarakat Indonesia, tidak untuk seluruh masyarakat dunia. Pada kultur masyarakat Barat konsep cantiknya justru mengacu pada warna kulit sawo matang seperti masyarakat Indonesia, mereka menganggap warna kulit orang Indonesia itu eksostis, hal ini terbukti ketika mereka berupaya menggelapkan warna kulitnya dengan berjemur dipantai dan mengoleskan krim pencoklat. Ironis, masyarakat kita mengoleskan krim pemutih, sedangkan masyarakat Barat mengoleskan krim pencoklat. Ini membuktikan bahwa, konsep warna kulit tidak putih itu jelek sama sekali salah, dalam kultur Barat justru itu yang cantik. Disinilah letak relativitas konsep cantik yang menjadi kontradiksi internal dalam kontruksi wacana rasis iklan produk kosmetik pemutih kulit. Wacana kulit putih itu cantik adalah semacam strategi untuk mendongkrak penjualan produk kosmetik, wacana ini tidak berdasarkan pada realitas universal, tatapi hanya memanfaatkan konvensi kultural sepihak masyarakat Indonesia.

Sumbangan besar Foucault terhadap teori dan praktek perubahan sosial adalah membuat teori ini lebih sensitik terhadap relasi kekuasaan dan dominasi dan menyadarkan kita bagaimana relasi kekuasaan (power) teranyam disetiap aspek kehidupan serta kehidupan pribadi, dan ini bertentangan dengan umumnya kenyataan ilmu sosial yang cenderung mengabaikan "kekuasaan" dalam dunia ilmu pengetahuan, dan asumsi bahwa pengetahuan itu netral, obyektif dan tak berdosa.

Kecendrungan memandang bahwa kekuasaan terpusat di negara ataupun kelas, bagi Foucault merupakan pengingkaran kenyataan, karena relasi kekuasaan teradapat pada setiap aspek kehidupan. Konsep tentang kekuasaan (power) ini memberikan pengaruh besar tentang bagaimana aspek dan pusat lokasi dari kekuasaan serta bentuk perjuangan untuk membatasi dan bagi-bagi kekuasaan. Jika umumnya kekuasaan hanya tertuju pada negara dan kelas elit, pemikiran Foucault membuka kemungkinan untuk membongkar semua dominasi dan relasi kekuasaan, seperti kekuasaan dalam pengetahuan antara para pencipta diskursus, birokrat, akademisi, dan rakyat miskin jelata yang "tidak beradab" yang harus disiplinkan, diregulasi dan "dibina".

[1] Foucault, Michel, The History of Sexuality: an Introduction: Volume I, Vintage Books, 1990
[2] Selden, Raman, and Peter Widdowson, A Reader's Guide to Contemporary Literary Theory:Third Edition. Kentucky: The University Perss of Kentucky.1993.
[3] Opcit…100
[4] Van Djik, Teun. Discourse And Society: Vol 4 (2). London, Newbury Park and New Delhi: Sage. 1993, hal.254
[5] Ibid. hal.249
[6] Ibid, hal.249-250
[7] Borradori, Giovanna, "Philosophy in a time of Terror: Dialogues With Jurgen Habermas and Jacques Derrida". Chicago: The University of Chicago Press. 2003, hal.204
Bagikan :
Reaksi:
PERHATIAN:Jika anda mendownload di blog ini, maka anda akan di redirect terlebih dahulu ke laman Short Safelink untuk keamanan blog. Oleh karena itu jika terjadi error 404 maka terjadi kesalahan dalam klik di laman redirect atau terjadi refresh laman redirect. Untuk mengatasinya anda bisa mengulang kembali klik file yang akan anda download di blog ini. Dan Jika anda ingin bertanya atau bantuan bisa kontak kami dengan Klik Disini atau nomor berikut 085733513782 - Terima kasih.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar Disqus

0 Response to "Pengetahuan dan Kekuasaan Michel Foucault Terhadap Teori Diskursus"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel