5 Hal Yang Harus Diprioritaskan Dalam Pendidikan Islam


5 Hal Yang Harus Diprioritaskan Dalam Pendidikan Islam

www.azid45.web.id - 5 hal yang harus diprioritaskan dalam pendidikan Islam. Ada sementara di cendekiawan berpendapat bahwa lahirnya ilmu pendidikan Islam, yang menjadi konsentrasi atau program studi di perguruan tinggi Agama Islam (PTAI), merupakan perwujudan dari sikap mengada-ada atau pemaksaan kehendak dari para intelektual muslim di kalangan PTAI. Kata “Islam” yang melekat pada disiplin ilmu tersebut di pandang sebagai adopsi dari disiplin ilmu yang telah ada sebelumnya dan telah mapan, kemudian di beri lebel Islam”.

Pendapat tersebut ada benarnya jika para intelektual muslim di PTAI tidak sempat di berikan landasan dan argumentasi yang kukuh terhadap eksitensi pendidikan agama islam tersebut. Apa lagi persyaratan disiplin ilmu agama Islam itu tidak jelas dari ilmu-ilmu yang lain, atau lebih ironis lagi hanya sekedar memberi legalitas dan justifikasi bahwa hal itu sudah ada dalam islam. Namun demikian, jika mereka berusaha menjelaskannya dengan landasan filosofis yang kukuh dan mampu membedakan secara tajam dan antara disiplin ilmu agama islam dengan ilmu-ilmu lainnya, seperti antara pendidikan islam yang di kembangkan di PTAI dengan pendidikan yang di kembangkan di perguruan tinggi umum, maka kesan mengada-ada atau pemaksaan kehendak tersebut sedikit demi sekit akan menjadi sirna, atau bahkan pengembangan pendidikan Islam akan mendapat pengakuan dari para ilmuan pada umumnya. Lagi pula jika hasil penelitian dan teori-teori yang di bangun oleh ilmuan tentu dengan metode dan metodeloginya yang jelas dapat dideklarasikan sebagai disiplin ilmu baru dan memperoleh pengakuan dari ilmuan pada umumnya, mengapa hasil kajian-kajian dari ilmuan muslim yang tidak bisa di terima pada hal masing-masing memiliki ilmuan berhak untuk membangun suatu disiplin ilmuannya yang baru sepanjang dapat di pertanggungjawabkan secara filosofis dan ilmiah.

Mengaca dalam hal tersebut, perlu adanya sebuah prioritas pendidikan Islam yang harus diarahkan. Dalam pandangan Abuddin Nata ada lima hal yang harus diprioritaskan mengenai pendidikan Islam, yakni:

Pertama, pendidikan Islam bukanlah hanya untuk mewariskan paham atau pola keagamaan hasil internalisasi generasi tertentu kepada anak didik. Pendidikan Islam jangan memperlakukan anak didik sebagai konsumen dari sebuah paham atau gugusan ilmu-ilmu tertentu, melainkan harus mampu memberikan fasilitas yang memungkinkan dia menjadi produsen ilmu dan membentuk pemahaman agama dalam dirinya yang kondusif dengan zaman. Dengan demikian pendidikan harus lebih dilihat sebagai proses yang didalamnya anak didik memperoleh kemampuan metodologis untuk memahami pesan-pesan dasar yang diberikan Agama. Dengan pandangan yang demikian, maka seorang guru harus memiliki kemampuan untuk memahami dan menyelami alam pikiran para siswa, dan kemampuan untuk meramu bahan pelajaran, sehingga tersusun suatu program pelajaran yang relevan dengan realitas yang terdapat dalam kehidupan para siswa. Seorang yang mendidik bukanlah guru yang memamerkan pengetahuan ketika ia berada di depan kelas, tetapi seorang guru yang mendidik adalah guru yang mampu membangkitkan kreatifitas dan imajinasi para siswa untuk menghasilkan dan menemukan kebenaran.

Kedua, pendidikan Islam hendaknya menghindari kebiasaan menggunakan andaian-andaian model yang diidealisir yang sering kali membuat kita terjebak dalam romantisme yang berlebih-lebihan. Hal itu, dalam segala manifestasinya, seperti kerinduan kita agar anak dapat mengulangi pengalamna dan pengetahuan yang pernah kita peroleh. Umpamanya saja, kita menuntut anak kita agar mampu mengaji al-Quran sama fasihnya dengan kita sendiri. Atau dalam membaca al-Fatihah selancar yang kita lakukan di pesantren dahulu, padahal anak-anak kita sekarang dikirim ke sekolah umum. Jika romantisme ini kita kembangkan secara berlebih-lebihan, dikhawatirkan kita akan terpaku pada mitos yang akhirnya membuat kita lebih bermimpi daripada berpikir obyektif dalam menyusun program pendidikan agama demi masa depan anak didik.

Ketiga, bahan-bahan pengajaran agama hendaknya selalu dapat megintegrasikan problematic empiric di sekitarnya, agar anak didik tidak memperoleh bentuk pemahaman keagamaan yang bersifat parsial dan segmentatif. Hal ini penting dalam kaitannya dengan penumbuhan sikap kepedulian social, dimana anak harus berlatih untuk menggunakan persepsi normatif terhadap realitas. Oleh karena itu anak harus selalu diajak melakukan refleksi teologis dalam rangka menanggapi setiap bentuk tantangan hidup yang dihadapinya. Sehingga dalam kehidupan sehari-harinya anak-anak tidak akan hampa iman dan tidak memiliki ketergantungan terhadap pengaruh kaum professional agama dalam hal ini para produsen norma dan spiritual diluar dirinya secara berlebih-lebihan. Dengan cara demikian agama yang dianutnya bukan hanya sekedar menjadi pengetahuan, melainkan lebih merupakan sikap dan amalan yang manfaatntya dapat dirasakan baik oleh dirinya maupun orang lain.

Keempat, perlunya dikembangkan wawasan emansipatoris dalam proses belajar mengajar agama. Sehingga anak didik cukup memperoleh kesempatan berpartisipasi dalam rangka memiliki kemampuan metodologis untuk mempelajari materi atau subtansi agama.

Kelima, jika visi pendidikan agama seperti diutarakan harus diterjemahkan dalam ruang lingkup atau lingkungan pendidikan, sebaiknya hal-hal yang ebrsifat menanamkan keharusan emosional keagamaan, berperilaku yang baik (akhlak), dan memiliki sikap terpuji, mungkin lebih tepat ditekankan dalam program pendidikan agama dilingkungan keluarga. Sebab dalam lingkungan keluarga, hati nurani dan dzikir senantiasa mempunyai peluang untuk dipertajam agar potensi ma’rifat anak-anak kita dapat tumbuh dengan baik. Adapun di sekolah, lingkungan belajar di kelas yang terbatas itu, dapat digunakan secara efektif untuk melatih kemampuan pembacaan kritis anak didik, agar mereka berkemampuan mempersepsi ilmu pengetahuan dan keadaan lingkungan sosialnya berdasarkan kerangka normatif agama. Sehingga, anak didik memiliki sikap-sikap dasar mengenai etika social, pandangan hidup, dan etis dunia yang berasal dari kesadaran religius yang dalam.[1]

Itulah prioritas pendidikan Islam, yakni bagaimana agar agama Islam dapat meletakkan kerangka dasar bagi manusia sehingga mampu menunaikan tugas pokoknya sebagai khalifah di bumi, sebagai pengemban tugas sejarahnya semasa hidup di dunia. Pendidikan Islam sesungguhnya adalah bagian yang sangat penting dari proses penyerapan tugas sejarah itu kepada setiap anak didik (generasi umat manusia) demi keberlangsungan peradaban yang intinya mengemban fungsi kekhalifahan. Tentunya dalam pola pedagogis yang berubah-ubah, sesuai dengan perubahan waktu dan lingkungan tempat generasi itu menemukan tantangan sejarahnya masing-masing

[1] Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia,(Jakarta:Kencana,2007), 167-171
Bagikan :
Reaksi:
PERHATIAN:Jika anda mendownload di blog ini, maka anda akan di redirect terlebih dahulu ke laman Short Safelink untuk keamanan blog. Oleh karena itu jika terjadi error 404 maka terjadi kesalahan dalam klik di laman redirect atau terjadi refresh laman redirect. Untuk mengatasinya anda bisa mengulang kembali klik file yang akan anda download di blog ini. Dan Jika anda ingin bertanya atau bantuan bisa kontak kami dengan Klik Disini atau nomor berikut 085733513782 - Terima kasih.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar Disqus

0 Response to "5 Hal Yang Harus Diprioritaskan Dalam Pendidikan Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel