3 Alasan Larangan Mengucapkan Selamat Hari Natal Bagi Orang Islam

www.azid45.web.id3 Alasan Larangan Mengucapkan Selamat Hari Natal Bagi Orang Islam. Imam Ghazali pernah mengatakan bahwa sebagai umat Islam kita harus senantiasa menjaga 5 pokok yang penting dalam syariat Islam, terutama hifdzu al-din "menjaga agama". Dimana hifdzu al-din merupakan point pertama dalam maqasid al-syariah fi al-islam disamping terdapat hifdzu al-nafs, hifdzu al-aqli, hifdzu al-nasb, dan hifdu al-mal. Dari pandangan tersebut, oleh karenanya kita sebagai umat Islam harus senantiasa menjaga agama kita dari berbagai bentuk kesyirikan, kemunafikan, dan hal-hal lain yang dapat merusak ketahuidan kita, salah satunya adalah kalimat "selamat hari natal".

Dalam berbagai kehidupan masyarakat kita sebagai umat Islam telah dihadapkan berbagai pernyataan sudut pandang dalam mengucapkan selamat hari natal, mulai dari sebagai toleransi beragama, bentuk sekulerisasi, dan lainnya. Lantas apakah benar mengucapkan selamat hari natal itu boleh bagi orang Islam? dan apakah hal tersebut merupakan wujud toleransi beragama? tentunya secara pribadi penulis menjawab TIDAK. Mengapa hal demikian? Secara dalil dan logika setidaknya toleransi antar umat beraagama adalah dari segi muamalah duniawiyah. Sebagaimana kita sebagai umat Islam senantiasa harus menjalin ukhuwah di seluruh alam ciptaan Allah baik itu hewan, manusia maupun alam. Dimana jika tetangga kita non Islam namun mendapat kesusahan maka kita sebagai umat Islam harus tetap menolongnya, hal tersebutlah merupakan ajaran Rasulullah sebagai rahmatan lil alamin

Mengenai hal tersebut pula, Allah telah mengabadikannya dalam surat al-kafirun:
قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١  لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢  وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣  وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥  لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦ 

Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku"

Dalam ayat tersebut jelas menjelaskan bahwa agama tidak boleh dicampur adukkan, agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku. Sebagaimana mengucapkan kalimat "selamat hari natal", jelas hal tersebut secara tidak langsung telah melemahkan iman kita sebagai umat Islam. Mengapa demikian? setidaknya ada 3 alasan yang membuat pertanyaan tersebut kita sebagai umat Islam tidak boleh untuk mengatakannya;

Pertama, mengakui bahwa Isa As adalah Tuhan dan bukan Seorang Nabi.
Pertanyaan pertama inilah yang meruapakan alasan utama mengapa kita sebagai umat Islam tidak diperbolehkan mengucapkan "selamat hari natal". KH Buya Hamka sendiri tatkala waktu itu menjadi MUI telah mengharamkan mengucapkan selamat natal, dan diwaktu pemerintah menyuruh beliau untuk membolehkan mengucapkan "selamat hari natal" beliau akhirnya keluar dari MUI. Hal ini membuktikan lebih berharganya nilai ketauhidan dari pada urusan duniawi. Disamping cerita tersebut, Kaum non Islam Nasrani sendiri secara langsung mengatakan bahwa Isa (Yesus) merupakan Tuhan mereka, jelas hal tersebut bertentatangan dengan kepercayaan kita sebagai umat Islam, bahwa Nabi Isa as adalah seorang Nabi dan Rasul Allah, sesbagaimana dalam firman Allah Q.S Al-Shaf: 6

وَإِذۡ قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُم مُّصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَمُبَشِّرَۢا بِرَسُولٖ يَأۡتِي مِنۢ بَعۡدِي ٱسۡمُهُۥٓ أَحۡمَدُۖ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ قَالُواْ هَٰذَا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ٦ 

Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata"

Dalam ayat diatas dengan jelas secara pribadi Nabi Isa as telah menyatakan dirinya bahwa belau adalah seorang Nabi dan Rasul Allah. Oleh karena itu kita tidak sepatutnya mengucapkan "selamat hari natal", karena secara tidak langsung kita juga mengimani kepercayaan dan keyakinan agama mereka dan meyakini bahwa Nabi Isa as adalah Tuhan bagi mereka.

Kedua, mengakui bahwa Isa As adalah yang disalib,
Alasan yang kedua adalah bahwasannya mengucapkan "selamat hari natal" sama halnya bahwa Nabi Isa as lah yang telah di salib oleh para pengikutnya pada waktu itu, sehingga kaum nasrani menyimbolkan Tuhan mereka dengan Isa yang disalib. Hal ini jelas bertolak belakang dengan ajaran Islam, dimana bahwa yang disalib adalah Yudas Iskariot seorang pengikut Nabi Isa as yang menghianati beliau, akhirnya Allah mengubah wajahnya seperti wajah Nabi Isa as dan Nabi Isa as diangkat oleh Allah kelangit. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Q.S an-Nisa': 157-158

وَقَوۡلِهِمۡ إِنَّا قَتَلۡنَا ٱلۡمَسِيحَ عِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ رَسُولَ ٱللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِن شُبِّهَ لَهُمۡۚ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِ لَفِي شَكّٖ مِّنۡهُۚ مَا لَهُم بِهِۦ مِنۡ عِلۡمٍ إِلَّا ٱتِّبَاعَ ٱلظَّنِّۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينَۢا ١٥٧ بَل رَّفَعَهُ ٱللَّهُ إِلَيۡهِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا ١٥٨  

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa, Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dari ayat tersebut jelas bahwa yang mereka bunuh adalah bukan Nabi Isa as, oleh karena itu kita sebagai umat Islam tidak boleh mengucapkan "selamat hari natal" karena hakikatnya kita juga mempercayai bahwa Nabi Isa as telah disalib dan hal tersebut bertentangan dengan al-Qur'an yang jelas tidak ada keraguan didalamnya dan terjaga sampai akahir zaman.

Ketiga, mengakui bahwa tanggal 25 Desember adalah kelahiran Nabi Isa As
Alasan yang terakhir adalah, bahwa mengucapkan "selamat hari natal" juga secara tidak langsung menyatakan dan mempercayai bahwa Nabi Isa as lahir pada tanggal 25 Desember. Hal ini jelas bertentangan dengan al-Qur'an dan sejarah Islam. Dimana tatkala Maryam melahirkan Isa, Allah menyuruh menggoyangkan pohon kurma yang akan dimakan oleh Isa. Dari kisah tersebut secara logika di daerah Timur tengah jelas bahwa pada bulan Desember kurma sedang tidak berbuah, namun kurma berbuah pada bulan Juli-Agustus. Kisah tersebut telah Allah abadikan dalam al-Qur'an surat Maryam: 25.

وَهُزِّيٓ إِلَيۡكِ بِجِذۡعِ ٱلنَّخۡلَةِ تُسَٰقِطۡ عَلَيۡكِ رُطَبٗا جَنِيّٗا ٢٥ 
Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu

Disamping kisah tersebut, menurut Hj. Iren Handono yang seorang Muallaf asal Surabaya dalam bukunya juga mengungkapkan keganjalan-keganjalan pada hari natal salah satunya adalah pohon cemara. Simbol yang juga ada pada hari natal jelas bertolak belakang dengan kelahiran Nabi Isa yang pada saat itu ada di Palesitin dan jelas kita ketahui disana tidak ada pohon cemara. Selain itu dikepala Yesus terdapat simbol matahari, dimana sejatinya itu adalah simbol oleh bangsa Ramawi terhadap tuhan mereka dan pada saat tiap tanggal 25 Desember mereka berfoya-foya untuk memperingati perayaan tahunan mereka. Untuk mengelabuhi agar mereka masuk Kristen akhirnya mereka menyatakan bahwa tanggal 25 Desember dilahirkan dan akhirnya raja dan rakyat mereka memeluk agama Kristen karena kesamaan dalam perayaannya. 

Demikianlah tiga alasan larangan mengucapkan kalimat "selamat hari natal" pada diri kita sebagai umat Islam. Jelaslah hal tersebut merupakan suatu yang melemahkan iman dan ketauhidan kita dan mendekatkan kita dalam sebuah kesyirikan yang nyata. Dengan mengucapkan "selamat hari natal" secara tidak langsung juga mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan ada Tuhan lain selain Allah. (Naudubillah min dzalik). Selain itu secara anologi penulis, sejatinya kalimat "selamat hari natal" merupakan kata yang sederhana namun dapat merusak agama kita sebagaimana kita mengucapkan kalimat syahadat yang merupakan wujud keimanan kita dan bukti kita masuk Islam dimana mereka (kaum non Islam) tidak mau mengucapkan kalimat syahadat karena mereka mengetahui hal tersebut dapat merusak keimanan mereka.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُحِلُّواْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ وَلَا ٱلشَّهۡرَ ٱلۡحَرَامَ وَلَا ٱلۡهَدۡيَ وَلَا ٱلۡقَلَٰٓئِدَ وَلَآ ءَآمِّينَ ٱلۡبَيۡتَ ٱلۡحَرَامَ يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّن رَّبِّهِمۡ وَرِضۡوَٰنٗاۚ وَإِذَا حَلَلۡتُمۡ فَٱصۡطَادُواْۚ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَ‍َٔانُ قَوۡمٍ أَن صَدُّوكُمۡ عَنِ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ أَن تَعۡتَدُواْۘ وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٢

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi´ar-syi´ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya
Bagikan :
Reaksi:
PERHATIAN:Jika anda mendownload di blog ini, maka anda akan di redirect terlebih dahulu ke laman Short Safelink untuk keamanan blog. Oleh karena itu jika terjadi error 404 maka terjadi kesalahan dalam klik di laman redirect atau terjadi refresh laman redirect. Untuk mengatasinya anda bisa mengulang kembali klik file yang akan anda download di blog ini. Dan Jika anda ingin bertanya atau bantuan bisa kontak kami dengan Klik Disini atau nomor berikut 085733513782 - Terima kasih.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar Disqus

0 Response to "3 Alasan Larangan Mengucapkan Selamat Hari Natal Bagi Orang Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel