Filsafat Pendidikan Islam Kontemporer

Filsafat Pendidikan Islam Kontemporer


Lahirnya pemikiran Islam kontemporer di dunia Islam tidak terlepas dari terjadinya persentuhan budaya berfikir kaum intelektual muslim dengan tradisi keilmuan Barat atau Eropa. Islam kontemporer maksudnya adalah penafsiran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadith dengan perkembangan pemikiran oleh kaum intelektual muslim dalam membaca perubahan zaman. Pemikiran Islam kontemporer maksudnya adalah pemikiran Islam yang berkembang pada masa modern (abad 19 masehi) hingga sekarang.
Ciri khas pemikirannya adalah bersifat agresif yang berkembang dengan metode pemikiran baru dalam menafsirkan Al-Qur’an dan peradaban Islam. Akan tetapi, pertanyaan yang menggugah para intelektual Islam adalah “di manakah pemikiran Islam kontemporer?” Sebagai upaya untuk mengembalikan suasana kebebasan berfikir, Muhammad arkoun mengangkat tradisi keilmuan klasik Imam Ghazali dan Ibnu Rush yang mencerminkan puncak kegemilangan dialog pemikiran yang konstruktif.[1]

Gema Islam kontemporer semakin meluas. Namun secara umum gema tersebut masih dalam kerangka tarik-menarik dengan pemikirann klasik. Karena keterkaitan para intelektual Islam sangat kuat dengan masa keemasan para pendahulunya, mereka membuka lembaran masa lalu, untuk menggali inspirasi. Masa lalu adalah pemicu para intelektual muslim kontemporer untuk melakukan reaktualisasi, rekonstruksi dan dekonstruksi.
Murad wahbah menyatakan, bahwa Ibnu Rushd, filsuf Muslim kelahiran Maroko adalah pintu gerbang pencerahan di Eropa. Bahkan sampai saat ini tidak ada karya secemerlang Ibnu Rushd dalam kategori komentar terhadap buku-buku Aristoteles, sehingga ia dijuluki dengan al-sya>rih al-‘adham (komentator agung). Maka dari itu, di akhir abad 20-an para intelektual Islam baik di wilayah Timur maupun wilayah barat, mulai mengangkat khazanah rasionalitas Ibnu Rushd dalam rangka membumitanahkan pencerahan pemikiran Islam.
Aliran filsafat pendidikan kontemporer yaitu progresivisme, rekonstruksionisme, futurisme, dan humanisme. Garis demarkasi yang membatasi penyebutan tradisional dengan kontemporer tidak hanya berpijak pada waktu semata, melainkan, pada kekhasan aliran tersebut. Ditilik dari sejarah kemunculannya, justru progresivisme muncul lebih awal di Amerika Serikat daripada esensialisme.
Asumsi pendukung esensialisme adalah bahwa progresivisme telah menimbulkan ketidakstabilan pelaksanaan pendidikan dan kurang memerhatikan nilai-nilai, norma, serta pewarisan budaya. Dari mana sumber munculnya progresivisme sebagai falsafah pendidikan yang tergolong modern-kontemporer? Akar falsafah pendidikan kontemporer bisa dilacak dari basis filosofisnya, pragmatisme.

1.    Progresivisme
Aliran progressivisme ini adalah salah satu aliran filsafat pendidikan yang berkembang dengan pesat pada permulaan abad ke-20 dan sangat berpengaruh dalam pembaharuan pendidikan. Progressivisme dalam pandangannya selalu berhubungan dengan pengertian “the liberal road to culture” yakni liberal yang fleksibel (lentur dan tidak kaku, toleran dan bersikap terbuka, serta ingin mengetahui dan menyelediki demi pengembangan pengalaman. Progressivisme juga disebut sebagai naturalisme yang mempunyai pandangan bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah alam semesta ini (bukan kenyataan spiritua dan supernatural).
Pendidikan progressivisme selalu menekankan akan tumbuh dan berkembangnya pemikiran dan sikap mental, baik dalam pemecahan masalah maupun kepercayaan kepada diri sendiri bagi peserta didik. Progres atau kemajuan menimbulkan perubahan dan perubahan menghasilkan pembaharuan. Kemajuan nampak apabila tujuan telah tercapai. Dan nilai dari suatu tujuan tertentu itu dapat menjadi alat jika ingin dipakai untuk mencapai tujuan lain. Misalnya faedah kesehatan yang baik akan mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat.

2.    Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme sering kali diartikan sebagai rekonstruksi sosial yang merupakan perkembangan dari gerakan filsafat pendidikan progresivisme. Umumnya rekonstruksionisme menganggap bahwa progresivisme belum cukup jauh berusaha memperbaiki masyarakat. Mereka percaya progresivisme hanya memerhatikan problem masyarakat pada saat itu saja, padahal yang diperlukan pada abad kemajuan teknologi yang pesat adalah rekonstruksi masyarakat dan penciptaan tatanan dunia baru secara menyeluruh.
Rekonstruksionisme timbul sebagai akibat dari pengamatan tokoh-tokoh pendidik terhadap Amerika khususnya, dan masyarakat Barat umumnya, yang menjelang tahun tiga puluhan, menjadi kurang menentu. Keadaan masyarakat tidak sepadan dengan harapan ideal seperti timbulnya kebebasan, kesamaan, dan persaudaraan. Untuk mengembalikan kepada keadaan semula hendaknya pendidikan dapat berperan sebagai instrumen rekonstruksi masyarakat. Artinya, bahwa tujuan pendidikan, kurikulum, metode, peranan guru dan peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan hendaknya searah dengan situasi dan kebutuhan masyarakat. Peserta didik dalam sekolah yang bercorak rekonstruksionisme ini diarahkan supaya mampu beradaptasi dan berinteraksi dengan masyarakat di mana ia tinggal. Maka, orientasi pendidikannya adalah masyarakat.[2]
Imam barnadib mengartikan rekonstruksionisme sebagai filsafat pendidikan yang menghendaki agar anak didik dapat dibangkitkan kemampuannya untuk secara rekonstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat sebagai akibat adanya pengaruh dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Kaitannya dengan pendidikan, rekonstruksionisme menghendaki tujuan pendidikan untuk meningkatkan kesadaran siswa mengenal problematika sosial, politik, dan ekonomi yang dihadapi oleh manusia secara global, dan untuk membina mereka, membekali mereka dengan kemampuan-kemampuan dasar agar bisa menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. Kurikulum dan metode pendidikan bermuatan materi sosial, politik, dan ekonomi yang sedang dihadapi oleh masyarakat.
Rekonstruksionisme memiliki dua perspektif, masa kini yang banyak mengandung progresivisme dan masa depan yang bersifat futuristik. Itulah sebabnya futurisme dalam pendidikan sering dianggap sebagai perkembangan dan bagian tak terpisahkan dari rekonstruksionisme.[3]

3.    Futurisme
Menurut Jhon Dewey, filosof pendidikan pragmatisme, fungsi mata pelajaran dalam pendidikan adalah untuk menjaga agar proses pendidikan tetap hidup, dan menjaganya dengan cara yang dapat menimbulkan kemudahan dalam menghadapi kehidupan masa depan.
Masa kini bukanlah sekedar sesuatu yang muncul setelah masa lalu secara tiba-tiba, melainkan sedikit atau banyak dipengaruhi olehnya. Masa kini adalah kelanjutan dari kehidupan yang ditinggalkan pada masa sebelumnya. Mengkaji produk masa lalu tidak akan membantu memahami masa kini, sebab masa kini bukanlah ditimbulkan dari produk, melainkan dipengaruhi oleh kehidupan yang menghasilkan produk. Pengetahuan mengenai masa lalu beserta warisannya amat berarti saat memasuki masa kini, bukan sebaliknya.[4]
Kesalahan dalam memahami dan melestarikan materi pendidikan pada masa lalu merupakan pemotongan terhadap hubungan yang vital antara masa kini dan  masa lampau, akibatnya cenderung menjadikan masa lalu sebagai rival bagi masa kini, dan masa kini sedikit banyak merupakan imitasi masa lampau.
     Selanjutnya, dikatakan bahwa masa lalu adalah masa lalu sebagaimana adanya, karena pada masa tersebut tidak memiliki karakteristik yang dimiliki masa kini. Keadaan yang sedang berkembang pada masa kini meliputi dan/atau dipengaruhi oleh masa lalu dengan syarat menggunakan masa lalu untuk mengarahkan perkembangan/pergerakan masa kini.
Masa lalu merupakan sumber imajinasi yang berharga, ia menambah dimensi baru dalam kehidupan masa kini dengan syarat bahwa hal itu dipandang sebagai masa lalu yang memengaruhi masa kini, bukan sesuatu yang lain dan dunia yang tak berhubungan satu sama lain. Prinsip yang memperkecil peranan masa kini bagi kehidupan dan terjadinya perkembangan, merupakan perkara yang selalu ada, secara alami tampak seperti masa lampau karena tujuannya masa depan yang terbentuk adalah masih jauh dan kosong.
     Menurut Dewey, dengan uraian diatas, menganggap bahwa masa lalu, disamping tidak memiliki relevansi jika ditinjau dari segi substansinya, tetap berkaitan dan mempunyai mata rantai yang tak terpisahkan dengan kehidupan masa kini dan mendatang. Kaitan itu bukan terletak pada produk, melainkan kehidupan yang menghasilkan produk itu sendiri. Jelas bahwa peranan waktu bagi pembentukan masa depan amat penting
Dalam kaitannya dengan prospek pendidikan di masa depan, Dewey menyebutkan:
Education may be conceived either retrospectively or prospectively. That it to say it, may be treated as process of accommodating of the Future to the past, or as an utilization of the past for a resource in A developing the future. The former finds its standars and pattern in what has gone before”.
4.    Humanisme
Fokus perhatian humanisme adalah manusia (human). Aspek ini ada dalam pendidikan, walaupun aliran pemikiran kependidikan memiliki perbedaan persepsi dalam memandang aspek manusianya, tetapi objeknya tetap sama yaitu manusia.
Tendensi pemikiran edukatif Dewey dalam kaitan ini lebih mengarah pada sosio-antroposentris. Artinya, humanisme itu merupakan refleksi timbal balik antara kepentingan individu dengan masyarakat. Karenanya pendidikan harus diselenggarakan dengan memusatkan perhatian pada keduanya. Kemudian mengingat masyarakat itu selalu berkembang dan berubah, nilai-nilai yang dianggap baik dan buruk bagi individu juga mengalami perkembangan dan perubahan. Bila nilai-nilai, tendensi dan implus tadi dipandang baik oleh masyarakat, maka nilai-nilai, tendensi dan implus tadi dipandang sebagai sifat-sifat manusia yang baik. [5]
Dewey mengatakan bahwa setiap tendens dan impuls yang ada pada manusia tidaklah mempunyai suatu arti apa-apa, jadi tidaklah berakibat baik ataupun buruk terhadap masyarakat. Tendens dan impuls baru mempunyai arti bila ia memberikan akibat yang dipengaruhi atau dipaksakan oleh faktor-faktor luar, yaitu faktor-faktor dari kebudayaan.
Bila akibat antara tendens dengan faktor-faktor luar dianggap baik oleh masyarakat, maka tendens dipandang sebagai sifat-sifat manusia yang baik. Bila akibat itu dianggap merugikan masyarakat, maka tendens tadi dianggap sebagai suatu sifat manusia yang buruk. Oleh karena itu, ukuran baik dan buruk, adalah hasil perbuatan manusia dan masyarakat, hal ini mengacu pada sosio-antroposentris.


[1] Lukman Hakim, “Pemikiran Islam Kontemporer di Indonesia: Membaca masa depan gerakan Islam di Indoensia (Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, 2010).
[2] Abd. Rachman Assegaf. Filsafat Pendidikan Islam ( Jakarta: Rajagrafindo Persada) 206.
[3] Ibid., 209.
[4] Ibid., 210.
[5] Tendensi: Kecenderungan. Impuls: Rangsangan atau gerak hati yang timbul dengan tiba-tiba untuk melakukan sesuatu tanpa pertimbangan (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Reaksi:
PERHATIAN:Jika anda mendownload di blog ini, maka anda akan di redirect terlebih dahulu ke laman Short Safelink untuk keamanan blog. Oleh karena itu jika terjadi error 404 maka terjadi kesalahan dalam klik di laman redirect atau terjadi refresh laman redirect. Untuk mengatasinya anda bisa mengulang kembali klik file yang akan anda download di blog ini. Dan Jika anda ingin bertanya atau bantuan bisa kontak kami dengan Klik Disini atau nomor berikut 085733513782 - Terima kasih.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Related Posts

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar Disqus

0 Response to "Filsafat Pendidikan Islam Kontemporer"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel