Hakikat Tuhan dalam Pandangan Filsfat Pendidikan Islam


Kata Tuhan dapat dipahami sebagai Roh maha kuasa dan asas dari suatu kepercayaan atau suatu zat abadi supranatural yang sering diartikan dengan mengawasi dan memerintah jagad raya seisinya.[1] Terdapat dua terma tentang Tuhan dalam bahasa Arab yang cukup populer, yaitu kata Rabb dan Ilah yang keduanya mempunyai persamaan dalam arti sempit dan perbedaan dalam arti yang cukup luas, namun keduanya tetap dalam satu esensi.[2]
Allah swt adalah sang Maha alam semesta, termasuk didalamnya adalah manusia. Posisi Tuhan dalam hal ini sebagai al-Kha>liq, namun sering disebut juga dengan al-Rabb, Rabb al-‘Alamin, Rabb kulli shay’. Dari kata Rabb yang biasa diterjemahkan dengan Tuhan yang mengandung arti sebagai Tarbiyyah (yang menumbuhkembangkan sesuatu secara bertahap dan berangsur-angsur sampai sempurna), juga sebagai murabbi> (yang mendidik).[3]
Allah dalam artian menumbuh kembangkan merupakan fungsi rubu>biyyah yang biasa dipahami sebagai fungsi kependidikan. Proses penciptaan alam semesta dan manusia merupakan hakikat perwujudan atau realisasi dari fungsi rububiyah (kependidikan). Allah berfirman:

اقرأ باسم ربك الذي خلق. خلق الإنسان من علق. اقرأ وربك الأكرم. الذي علم بالقلم. علم الإنسان ما لم يعلم.
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Qs. Al-Alaq: 1-5).

Pembahasan tentang adanya Tuhan secara filosofis pada prinsipnya menuntut adanya pembuktian yang berdasarkan nalar. Hal inilah yang menjadi wacana perdebatan antara kaum filosof, kaum teolog, dan kaum Sufi.[4]
Dari berbagai perdebatan mengenai konsep Tuhan, kiranya dapat memiliki dampak dan implikasi pedagogis yang perlu diperhatikan oleh dunia pendidikan Islam. Oleh karena itu, argumen-argumen mengenai keberadaan Tuhan ditinjau dari sudut pandang Filsafat Pendidikan Islam hendaknya dapat melahirkan pemikiran yang berimplikasi kepada antara lain:

1.     Allah sebagai Pencipta, hendaknya dikenal dan diyakini oleh manusia melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya. Eksistensi Tuhan seperti ini harus dipahami sebagai tujuan utama pendidikan Islam. Ini merupakan unsur keimanan (akidah) dalam Filsafat Pendidikan Islam.[5]

2.     Allah sebagai Pencipta memiliki beberapa sifat yang disebut al-Asma>’ al-H{usna>. Sifat-sifat tersebut hendaknya dapat ditransformasikan dalam dunia pendidikan Islam, dalam rangka mewujudkan manusia sebagai khali>fah fi> al-Ard} yang bertugas mengemban amanah di muka bumi. Ini merupakan unsur ihsa>n (akhlak) dalam Filsafat Pendidikan Islam.[6]

3.     Allah sebagai Rabb mengandung arti bahwa Allah adalah Pengatur dan Pemelihara alam raya ini. Allah telah menentukan berbagai aturan (sunnatullah) yang harus diperhatikan dan diikuti oleh manusia. Ini merupakan unsur Islam (shari>’ah) dalam Filsafat Pendidikan Islam.[7]

4.     Melalui argumen teologis, Filsafat Pendidikan Islam memformulasikan bahwa alam semesta dirancang dan diciptakan Allah sebagai fasilitas bagi kehidupan manusia.[8] Fasilitas ini sedemikian rupa harus dikembangkan oleh manusia melalui kreativitas demi kesejahteraan umat manusia secara keseluruhan.


[1] https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tuhan.
[2] Lihat al-Fa>tihah: 1, al-‘alaq: 1, al-Baqarah: 163 dan 255, dua kalimat syahadat: أشهد أن لا إله إلا الله  al-naml: 26 (satu ayat yang mencakup dua kata sekaligus yaituالله لا إله إلا هو رب العرش العظيم  ).
[3] Tim penyusun silabus, ushu>l al-tarbiyyah wa al-ta’li>m, Vol. 1 (Ponorogo: Darussalam Press, 2007), 1. Lebih jelasnya lihat al-isra>: 24, al-shu’ara>’: 18.
[4] http://mediapaiku.blogspot.co.id/p/filasafat.html (artikel diakses pada selasa 22 oktober 2015, pukul 22:00).
[5] Lihat Ali ‘Imra>n: 190-191. Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang …”.
[6] Lihat al-Baqarah: 30 dan al-A’ra>f: 180.
[7] Lihat al-Kahfi: 84. Artinya: “Kami datangkan bagi setiap sesuatu dengan adanya sebab”. Dalam bahasa modern dikenal dengan Kausalitas.
[8] Lihat al-Baqarah: 22 dan 29. Artinya: “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Bagikan :
Reaksi:
PERHATIAN:Jika anda mendownload di blog ini, maka anda akan di redirect terlebih dahulu ke laman Short Safelink untuk keamanan blog. Oleh karena itu jika terjadi error 404 maka terjadi kesalahan dalam klik di laman redirect atau terjadi refresh laman redirect. Untuk mengatasinya anda bisa mengulang kembali klik file yang akan anda download di blog ini. Dan Jika anda ingin bertanya atau bantuan bisa kontak kami dengan Klik Disini atau nomor berikut 085733513782 - Terima kasih.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar Disqus

0 Response to "Hakikat Tuhan dalam Pandangan Filsfat Pendidikan Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel