Impelementasi Pendidikan Karakter


Pendidikan karakter  dapat dimaknai sebagai proses penanaman nilai esensial pada diri seseorang melalui serangkaian kegiatan pembelajaran dan pendampingan sehingga seseorang sebagai individu mampu memahami, mengalami, dan mengintegrasikan nilai yang menjadi nilai inti (core values) dalam pendidikan yang dijalaninya ke dalam kepribadiannya.
Dalam pendidikan, peran dan fungsi pendidikan sangat strategis yang tidak dapat dipungkiri. Sebab seorang pendidik turut menentukan sesuatu yang relevan digunakan dalam  mendidik dan mengajar, dan bagaimana peserta didik itu belajar memperoleh pengetahuan dan nilai-nilai hidupnya dengan mengimplisitkan nilai dalam pengetahuannya itu serta bersedia menularkan pengetahuannya kepada orang lain.[9] Hal ini sebagaiman tertera dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tertera dalam UU No 20 Tahun 2003 pasal 3, mengisyaratkan bahwa pendidikan di setiap jenjang harus diselenggarakan secara sistematis.

Berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik, diharapkan meraka mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. berdasarkan penelitiannya di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).[10] Hal ini berbeda dengan praktek pendidikan di Indonesia yang cenderung lebih berorentasi pada pendidikan berbasis hard skill (keterampilan teknis) yang lebih bersifat mengembangkan intelligence quotient (IQ), namun kurang mengembangkan kemampuan softskill yang tertuang dalam emotionalintelligence (EQ), dan spiritualintelligence (SQ). Pembelajaran diberbagai sekolah bahkan perguruan tinggi lebih menekankan pada perolehan nilai hasil ulangan maupun nilai hasil ujian. Banyak guru yang memiliki persepsi bahwa peserta didik yang memiliki kompetensiyang baik adalah memiliki nilai hasil ulangan/ujian yang tinggi.
Seiring perkembangan zaman, pendidikan yang hanya berbasiskan hard skill yaitu menghasilkan lulusan yang hanya memiliki prestasi dalam akademis, harus mulai dibenahi. Sekarang pembelajaran juga harus berbasis pada pengembangan soft skill (interaksi sosial) sebab ini sangat penting dalam pembentukan karakter anak bangsa sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Pendidikan soft skill bertumpu pada pembinaan mentalitas agar sesorang dapat menyesuaikan diri dengan realitas kehidupan. Kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skill) saja, tetapi juga oleh keterampilan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Adapun Muchlas Samani mengemukakan tentang beberapa langkah yang dapat dikembangkan dalam melakukan proses pembentukan karakter yang baik, dalam hal ini dapat dikaitkan dalam pendidikan karakter dalam lingkungan sekolah agar peserta ddiik lebih baik dan kompeten. Adapun langkah tersebut adalah sebagai berikut:
·      Menambahkan nilai kebaikan dalam diri peserta didik (knowing the good)
·      Menggunakan cara yang dapat membuat peserta didik memiliki alasan atau keinginan untuk berbuat baik (desiring the good)
·      Dorongan untuk melakukan hal-hal yang baik dalam diri peserta didik (doing the good)
·      Membiasakan olah pikir dan kalbu pada peserta didik (habit of the mind and heart)[11]
Sementara Masnur Muslich memberikan formula bahwa pendidikan  karakter jika ingin efektif dan  utuh harus menyertakan tiga basis desain dalam pemogramannya.[12]
1)   Desain pendidikan  karakter berbasis kelas. Desain ini berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan peserta didik sebagai pembelajar di dalam kelas. Konteks pendidikan karakter adalah proses relasional komunitas kelas dalam konteks pembelajaran. Relasi guru-pembelajar bukan monolog, melainkan dialog dengan banyak arah sebab komunitas kelas terdiri atas guru dan siswa yang sama-sama berinteraksi dengan materi.
2)   Desain pendidikan karakter berbasis kultur sekolah. Desain ini mencoba membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri peserta didik.
3)   Desain pendidikan karakter berbasis komunitas. Dalam mendidik, komunitas sekolah tidak berjuang sendirian.Masyarakat di luar lembaga pendidikan, seperti keluarga, masyarakat umum, dan negara, juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam  konteks kehidupan mereka.


[9] Noeng Muhadjir, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial: Teori Pendidikan Pelaku Sosial Kreatif, Cet Ke-V, (Yogyakarta: Rekesarasin, 2000), h. 71
[10] Mansur Muslich, Penddikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, Cet Ke-II, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 84
[11] Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, Cet Ke-II, (Bandung: Rosda Karya, 2012), h. 47-48
[12] Mansur Muslich, Penddikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, h. 160-161

Bagikan :
Reaksi:
PERHATIAN:Jika anda mendownload di blog ini, maka anda akan di redirect terlebih dahulu ke laman Short Safelink untuk keamanan blog. Oleh karena itu jika terjadi error 404 maka terjadi kesalahan dalam klik di laman redirect atau terjadi refresh laman redirect. Untuk mengatasinya anda bisa mengulang kembali klik file yang akan anda download di blog ini. Dan Jika anda ingin bertanya atau bantuan bisa kontak kami dengan Klik Disini atau nomor berikut 085733513782 - Terima kasih.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar Disqus

0 Response to "Impelementasi Pendidikan Karakter"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel