Pandangan Clifford Geertz Terhadap Agama Masyarakat Jawa di Indonesia

www.azid45.web.id - Pandangan Cliford Geertz Terhadap Agama Masyarakat Jawa Di Indonesia. Assalamualaikum.wr.wb, ada yang tau Cliford Geertz?, mungkin bagi mahasiswa prodi study agama-agama sering mendengar nama tersebut, tetapi bagi mahasiswa selain prodi tersebut tentunya asing dan jarang mengenalnya. Saya sendiri, sejak menjadi mahasiswa S1 belum pernah mendengar tokoh yang satu ini, apakah nama tersebut termasuk tokoh filsafat seperti Hegel, Karl Max, Lenin, Stalin, A. Gremsky, Plato, Aristoteles, dan lain sebagainya?. Ternyata setelah saya menjadi mahasiswa Pasca Sarjana, baru mengenalnya dari Dosen yang penuh wawasan mulai dari keagamaan, motivator, pendidikan, dan peneleti yang jenius Dr. H. Moh. Thohir,  M.Pd.I. Dalam keterangannya, bahwa Cliford Geetz juga seorang filosof di bidang antropologi dengan pemikirananya sejalan dengan pemikiran Max Weber, selain itu beliau juga adalah orang pertama kali yang meneliti agama di Jawa, apakah agama Hindu, Budha ataukah Islam?. Dari keterangannya, beliau menyimpulkan bahwa diantara ketiga agama tersebut ada di Jawa namun dari segi prateknya masyarakat Jawa mencampuradukkan agama tersebut dari berbagai sudut pandang dan ritual sehingga beliau menyimpulkan dan memberi nama bahwa masyarakat Jawa beragama Jawa. Kemudian pada tahun 1964 penelitiannya tersebut di publishkan menjadi buku dengan judul "The Religion of Java" diterbitkan oleh The Free Press Of Glencoe - London.

Sebuah Kata Pengantar

Sebelum mengulas, pemikirannya terkait The Religion of Java lebih mendalam, kiranya perlu kita ketahui sejarah kehidupan Cliford Geertz. Cliford Geertz merupakan seorang akademisi di bidang antropologi di Harvard University. Pandangan beliau tentang antropologi dipengaruhi oleh tradisi antropologi Amerika dan pemahamannya tentang ilmu sosial yang beliau dapatkan pada saat menjadi Departemen Hubungan Sosial di Harvard University bersama gurunya Talcott Parsons yang merupakan seoarang sosiolog besar asal Jerman dan ketua American Sociological Association. (Lihat Geertz, Agama Jawa (Abangan, Santri, Priyayi dalam masyarakat Jawa), terjm. Aswab Mahasin, Bandung: Dunia Pustaka Jaya, 1981, 151).

Selanjutnya, dalam buku beliau The Interpretation of Culture. Hutchinson & CO Publisher LTD. London.  Disana menyebutkan bahwa Cliford Geertz terpengaruh dengan pemikirannya Max Weber. Mengapa demikian? Pengaruh tersebut didapatnya dari guru besar belaiu ketika di Harvard University yaitu Talcott Parsons sedangkan Talcott Parsons merupakan sosiolog yang sangat terpengaruh oleh sosiolog besar asal Jerman yaitu Max Weber, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa Cliford Geertz secara tidak langsung juga merupakan sosiolog yang pemikirannya sejalan dengan pemikiran Max Weber.

Paradigma tersebut dapat kita lihat dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1974 The Interpretation of Culture. Hutchinson & CO Publisher LTD. London.  Beliau menyatakan bahwa konsep kebudayaan yang ia dukung pada hakikatnya adalah sebuah konsep semiotis, dan membenarkan teori Max Weber bahwa manusia adalah seekor binatang yang bergantung pada jejaring-jejaring makna yang ditenunnya sendiri. Dalam paradigmanya juga, bahwa kebudayaan sebagai jejaring tersebut menurut analisanya bukan merupakan ilmu eksperimental untuk mencari hukum akan tetapi merupakan ilmu interpretatif untuk mencari makna. Selanjutnya dalam bukunya yang sama, beliau juga menyatakan bahwa beliau mendapatkan empat sumbangan pemikiran diantaranya; Pertama, Durkheim tentang hakikat yang khudus, Kedua, metodologi Verstehen dari Weber, Ketiga, paralel antara ritus pribadi dan ritus kolektif yang dikemukakan Freud dan Keempat, eksplorasi Malinowski tentang perbedaan agama dan akal sehat. (lihat pada Tafsir Kebudayaan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 1992 halaman 2-3, dan 5, terjemahan dari The Interpretation of Culture. Hutchinson & CO Publisher LTD. London.).

Selain berikblat dengan pendahulunya (Max Weber), Cliford Geertz juga membuat jalur tersendiri dengan memberikan perhatian bagaimana aspek-aspek kehidupan yang berbeda dan bercampur dalam suatu kesatuan budaya yang detail dan sistematis tentang bangsa diluar Eropa Barat. Dari sinilah kemudian beliau meneliti strukur antropologi budaya - agama orang Indonesia dengan membandingkan dua wilayah, yaitu Bali dan Jawa (Mojokuto, Kota Pare, Kediri, Jawa Timur). Mengapa Cliford Geertz memilih Mojokuto bagian dari sampelnya di pulau Jawa?, tentunya beliau sebagai peneliti tidaklah asal-asalan dalam membuat keputusan tersebut, dan pastinya memiliki latar belakang yang ilmiah dan empiris. Menurut Cliford Geertz, menjadikan Mojokuto sebagai pusat penelitiannya di Jawa tidak lain karena kota tersebut merupakan pusat daerah kekuasan Hindu-Jawa, mulai awal sejak beridirinya kerajaan Daha hingga Singosari dan juga adanya hubungan historis dengan kerajaan Majapahit yang berpusat di Mojokerto. Selain itu hal yang membuat Cliford Geertz tertarik mengkaji daerah tersebut adalah juga merupakan salah satu daerah santri dan sekaligus terdapat ideologi nasionalis. Sehingga beliau menyimpulkan, bahwa di Mojokuto dimana Islam, Hiduisme, dan tradisi animisme pribumi berbaur dalam satu tatanan sistem sosial-budaya. (Lihat Clifford Geertz, After the Fact. Dua Negeri Satu Dasawarsa, Satu Antropolog. Clifford Geertz. (Yogyakarta: LKiS, 1998)

Pandangan Clifford Geertz Terhadap Agama Masyarakat Jawa

Dari hasil penelitian Cliford Geertz yang dilahirkan pada 26 Agustus 1926 di San Frasisco, California, Amerika Serikat yang dilakukan selama 4 tahun (1951-1954) tersebut menyimpulkan tentang fenomena yang berkanaan dengan masyarakat khususnya di Mojokuto akan adanya sebuah tatanan sistem sosial yang berakulurasi antara agama dengan kebudayaan Jawa bahwa beliau mengklasifikasikan masyarakat Mojokuto menjadi tiga subtradisi yaitu Pertama, Abangan, Kedua, Santri, dan Ketiga, Priyayi.

Pertama, Abangan. Abangan disini adalah sebuah tatanan sosial mayarakat yang dicirikan dengan berpusat di pedesaan dengan corak keberagamaannya kejawen, pekerjaannya cenderung kasar dan rendahan, serta mereka tinggal di daerah pinggiran seperti petani. Mereka sering melakukan upacara slametan, tingkeban, mitoni serta kepercayaan yang kompleks dan rumit terhadap makhluk halus (memdi, lelembut, tuyul, demit, dan lain sebagainya). Adapun dari segi pengobatan seluruhnya masih menggunakan rerangkaian teori dan praktek pengobatan magis dan sihir. Dan dari segi agama-ketuhanan, mereka sejatinya masih percaya pada ajaran agama Islam, meskipun mereka tidak menjalankan ritual ibadah shalat, puasa, haji, dan sebagainya.

Kedua, Santri. Santri disini dicirikan sebagai orang yang berpusat ditempat perdagangan seperti pasar karena pekerjaan mereka adalah pedagang dan saudagar. Corak keberagamaannya cenderung taat dalam beribadah seperti shalat, puasa haji dan sebagainya. Adapun tinggal mereka disekitar pasar.

Ketiga, Priyayi. Priyayi disini dicrikan sebagai orang yang berpusat dikantor pemerintahan di kota, seorang yang aristokrasi. Corak keberagamaannya Hindu-Budha dengan pekerjaan didominasi sebagai pegawai dan tinggalnya didekat pusat pemerintahan.

Dari ketiga paradigma Cliford Geertz tersebut, bahwa terdapat adanya fenomena persinggungan antara Islam dan kekuatan lokal meskipun pada dimensi-dimensi tertentu sebenarnya tidak bisa menggambarkan secara utuh eksitensi Islam di Jawa akan tetapi masih ada kekuatan lain selain abangan dan santri dalam kenyataan sosial - budaya masyarakat Jawa yaitu kelompok priyayi yang kesehariannya memiliki sejumlah karakter yang berbeda seperti apa yang biasa dilakukan oleh para santri dan abangan.

Daftar Pustaka

Geertz, Clifford. The Religion of Java. The Free Press of Glencoe. London. 1964
Geertz, Clifford. Abangan Santri Priyayi dalam Masyarakat Jawa. terj. Aswab Mahasin. Bandung: Dunia Pustaka Jaya.1981
Geertz, Clifford. Tafsir Kebudayaan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 1992 (Terjmh. The Interpretation of Culture. Hutchinson & CO Publisher LTD. London. 1974)
Kleden, Ignaz, Dari Etnografi ke Etnografi tentang Etnografi: Antropologi Clifford Geertz dalam Tiga Tahap” dalam Clifford Geertz, After the Fact. Dua Negeri Satu Dasawarsa, Satu Antropolog. Clifford Geertz. (Yogyakarta: LKiS, 1998), ix-xxi  terjemah dari (Clifford Geertz. After the Fact. Two Countries, Four Decades, One Antropologist., Harvard University Press.1995)

Artikel Lainnya

Disqus CommentClick HereHide

0 komentar untuk Pandangan Clifford Geertz Terhadap Agama Masyarakat Jawa di Indonesia