Skip to main content

Paradigma Islam dalam Pembangunan Ilmu Integralistik: Membaca Pemikiran Kuntowijoyo

Paradigma Islam dalam Pembangunan Ilmu Integralistik: Membaca Pemikiran Kuntowijoyo
www.azid45.web.id - Paradigma Islam dalam Pembangunan Ilmu Integralistik: Membaca Pemikiran Kuntowijoyo. Assalamulaikum, Wr.Wb, pada kesempatan kali ini saya akan mengulas terkait buku paradigma Islam dari pemikiran Kuntowijoyo yang dikarang oleh Dr. Muhammad Zainal Abidin, M.Ag. Buku ini diterbitkan oleh IAIN Antasari Press tahun 2016 lalu.

Sebuah Kata Pengantar: Paradigma Islam dalam Pembangunan Ilmu Integralistik

Perumusan kembali ilmu yang integralistik menjadi penting di tengah kuatnya tuntutan, agar ilmu yang dibangun dalam Islam, selain berpijak pada pandangan dunia Islam, juga memiliki relevansi kuat dengan kebutuhan umat Islam dalam menghadapi tantangan dan perubahan zaman.

Berbeda dengan realitas ilmu di dunia Islam yang seolah berjalan di tempat, ilmu-ilmu modern yang berkembang di Barat tumbuh subur seiring dengan perubahan tantangan kehidupan yang semakin kompleks. Ilmu-ilmu modern seperti sains kealaman, sosiologi, antropologi, psikologi, hermeneutika, dan bidang-bidang ilmu lainnya berkembang dengan pesat di Barat sebagai bentuk respons ilmuwan Barat terhadap realitas dan kebutuhan terkini masyarakat di sana.

Menyikapi ketertinggalan umat Islam di bidang ilmu ini, banyak pemikir muslim menjadikan ilmu-ilmu yang berkembang di Barat, sebagai referensi bagi dunia Islam dalam menghadapi tantangan modernitas. Mereka berpandangan bahwa ilmu itu merupakan alat atau instrumen yang netral, dan dapat dipergunakan oleh siapa saja. Bagi mereka, persoalan umat Islam di bidang ilmu dapat diatasi dengan transfer ilmu Barat ke dunia Islam.

Pandangan tentang netralitas ilmu yang sangat mengapresiasi pencapaian ilmu dari Barat ini, mendapatkan penilaian dan kritikan tajam dari kelompok pemikir muslim yang lain. Mereka berpendapat, peradaban dan ilmu modern sarat dengan nilai, kultur, dan kepentingan Barat, serta tidak cukup mampu memenuhi kebutuhan materiil, kultural, dan spiritual umat manusia, lebih-lebih bagi umat Islam, sehingga harus dievaluasi.

Sampai pada titik ini, ada dua model keilmuan yang berkembang di dunia muslim. Pertama, mereka yang bertahan dengan model ilmu-ilmu keislaman klasik, yang meski sarat dengan nilai-nilai keislaman, namun sangat terbatas serta kurang memiliki relevansi khusus dengan kebutuhan umat.
Kedua, mereka yang mengadopsi ilmu-ilmu Barat, yang dipandang relevan dengan realitas zaman sekarang, namun berpijak pada nilai-nilai yang berbeda dengan Islam. Fakta dua model keilmuan ini kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai dikotomi ilmu, yakni kelompok ilmu-ilmu agama dan
kelompok ilmu-ilmu umum.

Berangkat dari kenyataan ini, maka lahirlah gagasan ilmu yang integralistik, sebagai jalan tengah untuk mengambil aspek positif dari kedua model keilmuan di atas. Aspek positif dari ilmu-ilmu keislaman adalah nilai-nilai Islam yang melekat padanya; sedangkan aspek positif pada ilmu-ilmu Barat adalah relevansinya terhadap tantangan zaman. Ilmu integralistik yang dimaksud di sini adalah model keilmuan yang di samping memiliki nilai dan ruh keislaman, juga sekaligus relevan dengan
kebutuhan umat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan yang semakin kompleks.
Salah satu tokoh yang menggagas ilmu integralistik ini adalah Kuntowijoyo. Bangunan ilmu integralistik Kunto berangkat dari paradigma Islam sebagai pijakan, melalui proses yang disebut pengilmuan Islam.

Pengilmuan Islam bertitik tolak dari Islam itu sendiri, yakni Alquran sebagai basis pengembangan
teori ilmu. Gagasan ini oleh Kunto dipandang sebagai antitesis dari Islamisasi ilmu, sebuah proyek intelektual dari Barat ke dunia Islam, sedangkan pengilmuan Islam merupakan proyek intelektual dari dalam Islam ke dunia luar.

Ada tiga pokok persoalan dari pemikiran paradigma keilmuan Islam Kuntowijoyo yang dikaji dalam buku ini, yaitu:

  • persoalan konstruksi paradigma keilmuan Islam Kuntowijoyo;
  • persoalan landasan filosofi paradigma Islam; dan
  • persoalan prospek paradigma Islam dalam pembangunan ilmu yang integralistik.


Prosedur penulisan untuk memperoleh data dilakukan melalui studi kepustakaan, konsultasi dan diskusi. Adapun tahapan penyusunan buku ini melalui langkah-langkah: pengumpulan data, interpretasi data, dan penulisan. Pengumpulan data dilakukan untuk menemukan dan menghimpun
sumber-sumber informasi yang relevan dengan penelitian.

Interpretasi data dilakukan pada tahap penyusunan fakta dalam kerangka logis dan harmonis, sehingga menjadi kesatuan yang utuh. Sedangkan penulisan adalah tahap ketika hasil interpretasi ditulis secara sistematis, logis, harmonis, dan konsisten, baik dari segi kata maupun alur pembahasan.
Buku ini menggunakan pendekatan filsafat ilmu. Pendekatan ini menjadi pilihan mengingat fokus pembahasan berkenaan dengan konsep pemikiran seorang tokoh. Pendekatan filsafat ilmu dipergunakan khususnya dalam merekonstruksi gagasan paradigma keilmuan Islam Kuntowijoyo dan memberikan basis analisis dalam melihat prospek paradigma Islam tersebut dalam pembangunan ilmu yang integralistik.

Temuan penting buku Paradigma Islam dalam Pembangunan Ilmu Integralistik


Pertama, konstruksi paradigma Islam Kuntowijoyo dalam pembangunan ilmu yang integralistik berpijak pada semangat pengilmuan Islam. Ilmu menjadi pilihan dalam menyelesaikan berbagai persoalan umat. Perspektif ilmu juga dipergunakan dalam menggali sumber ilmu. Dari tiga sumber ilmu; ayat-ayat qauliyyah, ayat ayat kauniyyah, dan ayat-ayat insâniyyah, Kunto menetapkan Alquran (ayat-ayat qauliyyah) sebagai basis paradigma
Islam.

Untuk kepentingan ini, Alquran didekati dengan dua pendekatan. Pendekatan sintesis untuk pesan-pesan Alquran yang berkaitan dengan kisah atau amtsal. Pendekatan analitis berkaitan dengan konsep-konsep kunci Alquran. Dari segi metodologis, paradigma Islam menawarkan konsep integralisasi dan objektifikasi. Integralisasi, yaitu pemaduan antara ilmu-ilmu wahyu dan temuan-temuan manusia.

Objektifikasi, yaitu produk ilmu harus benar-benar bersifat objektif. Dilihat dari segi tujuan, paradigma Islam bermaksud melakukan transformasi transendental, yang dalam level implementasi berupaya mengeksplorasi pesan-pesan Alquran dengan visi humanisasi (amr ma’rûf), liberasi (nahî munkar), dan transendensi (îmân billâh).

Kedua, landasan filosofi paradigma Islam terbangun dari nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan. Nilai nilai tersebut secara bertautan mewarnai pemikiran paradigma Islam Kuntowijoyo. Dengan semangat dari nilai-nilai tersebut, Kunto meyakini bahwa wahyu Alquran memiliki signifikansi dalam membangun ilmu integralistik dan menghilangkan pandangan dikotomis dalam bidang ilmu.

Namun, paparan Kunto yang lebih memperhatikan pada aspek epistemologis dan aksiologis, harus dilengkapi pada sisi ontologis, yakni dengan mendasarkan pijakan pada kajian filsafat Islam, agar konstruksi filsafat keilmuan paradigma Islam akan lebih kokoh dan komprehensif. Selain itu, paradigma Islam Kunto yang cenderung normatif, perlu mengapresiasi hal-hal empirik agar paradigma Islam semakin memiliki signifikansi dalam upaya pembangunan ilmu yang integralistik.

Ketiga, paradigma Islam dinilai memiliki prospek yang cukup kuat dalam melahirkan ilmu-ilmu keislaman yang relevan dengan realitas dan kebutuhan umat Islam. Namun, prospek ini akan semakin optimal apabila terus dibangun kolaborasi yang integral antara tiga macam ayat-ayat Tuhan, yakni ayat-ayat qauliyyah, ayat-ayat kauniyyah, dan ayat-ayat insâniyyah dengan tetap mengapresiasi kekhasan segenap perangkat dan metode kerja yang umumnya berlaku pada masing-masing ayat-ayat
tadi.

Paradigma keilmuan Islam yang ditawarkan Kuntowijoyo dilihat dari peta pemikiran keilmuan Islam kontemporer; afirmatif-apologetik, instrumentalis, dan Islamisasi ilmu, merupakan model varian lain, yakni tetap menjadikan Alquran sebagai rujukan, namun dengan model pendekatan dan langkah yang berbeda, karena selain menghadapkan Alquran langsung pada level praksis pengalaman umat manusia pada ruang dan waktu yang berbeda, juga menempatkan Alquran sebagai basis pengembangan teori ilmu.

Dengan demikian, konsepsi paradigma keilmuan Islam Kunto akan memperlebar peta pemikiran intelektual muslim dalam upaya pengembangan ilmu di dunia Islam, sekaligus merupakan bantahan terhadap kritikan yang menolak penggunaan Alquran di luar kajian ilmu-ilmu agama.

Ada banyak pihak yang terlibat baik secara langsung ataupun tidak langsung dalam penyelesaian buku ini, oleh karenanya ucapan terima kasih disampaikan kepada pihakpihak sebagai berikut: Rektor IAIN ntasari Banjarmasin; Prof. Dr. H. Machasin, M.A. dan Prof. Drs. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., yang banyak memberikan masukan terhadap naskah awal buku ini. Segenap kolega penulis di Fakultas Ushuluddin dan Humaniora IAIN Antasari Banjarmasin. Almarhum Ayahnda Arfiansyah dan Ibunda Hamdanah, yang selalu mendukung dan mendoakan keberhasilan penulis. Demikian juga semua saudara penulis yang turut mendukung penulis selama studi.Isteri tercinta Yulia Hafizah serta anak-anak tersayang Nasywa Azkiya, Muhsin Labib Ahmad dan Muhammad Musa Kazhim, yang selalu menjadi inspirasi dalam penyelesaian tulisan ini.

Akhirnya, penulis berharap buku ini dapat memberikan kontribusi keilmuan dalam hal perumusan filsafat ilmu-ilmu keislaman, yang mengidealkan ilmu integralistik sebagai produknya, yakni ilmu-ilmu yang disamping berbasis pada nilai-nilai keislaman, juga memiliki relevansi terhadap kebutuhan umat Islam dalam menghadapi perkembangan zaman yang terus berubah dari waktu ke waktu. Demikian, wallâh hu a’lam bi al-shawâb.

Daftar Isi Buku Paradigma Islam dalam Pembangunan Ilmu Integralistik


Buku ini memiliki VII bab dengan keterangan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN


  • Latar Belakang
  • Survei Pustaka
  • Konstruksi Teoritis
  • Metode dan Pendekatan
  • Sistematika Penulisan


BAB II ISLAM DAN ILMU: TINJAUAN KONSEPTUAL DAN HISTORIS


  • Konsep Ilmu dalam Islam, pada bagian ini memiliki 3 sub point yaitu Pertama, Pandangan Tentang Makna dan Hakikat ilmu. kedua, Pandangan Tentang Sumber Ilmu. Untuk sumber ilmu sendiri terdapat 3 point yaitu a) Ayat-ayat Qauliyyât, b) Ayat-ayat Kauniyyât, c) Ayat-ayat nsâniyyâh
  • Ilmu pada Masa Kejayaan Peradaban Islam, pada bagian ini memiliki 3 sub point yaitu Pertama, Makna Kejayaan Peradaban Islam dan Faktor-faktor Pendukungnya. Kedua, Posisi Ilmu pada Masa Kejayaan Islam. Ketiga, Transmisi Ilmu dari Dunia Muslim ke Barat.
  • Islam dalam Perkembangan Ilmu di Dunia Modern, pada bagian ini memiliki 2 sub point yaitu Pertama, Krisis Ilmu di Dunia Muslim. Kedua, Stagnasi Ilmu-ilmu Islam
BAB III Biografi dan Setting Sosio-Politik Pemikiran Keilmuan Kuntowijoyo


  • Biografi Kuntowijoyo
  • Karya dan Kecenderungan Pemikiran Kuntowijoyo
  • Setting Sosial-Politik Diskursus Keilmuan Muslim Kontemporer, pada bagian ini terdapat 2 sub point yaitu Pertama, Setting Sosial-Politik Pemikiran Keilmuan Muslim Kontemporer. Kedua, Diskursus Pemikiran Keilmuan Muslim Kontemporer, untuk bagian ini terdapat 3 point yaitu a) Kelompok Afirmatif-Apologetik, b) Kelompok Instrumentalis, dan c) Kelompok Kritis
  • Kuntowijoyo dalam Diskursus Keilmuan Muslim Kontemporer


BAB IV Konstruksi Filosofis Paradigma Keilmuan Islam Kuntowijoyo


  • Konstruksi Ontologis, pada bagian ini terdapat 3 sub point yaitu Pertama, Pandangan Tentang Makna dan Hakikat Ilmu. Kedua, Tahapan Mitos, Ideologis, dan Ilmu. Ketiga, Kebenaran dalam Paradigma Islam.
  • Konstruksi Epistemologis, pada bagian ini terdapat 5 sub point yaitu Pertama, Ragam Sumber Ilmu. Kedua, Alquran Sebagai Sumber Ilmu. Ketiga, Problem Sakralitas Wahyu dan Budaya Kritis Ilmu. Empat, Strukturalisme Transendental. Lima, Pendekatan dalam Pembacaan Alquran.
  • Konstruksi Metodologis,pada bagian ini terdapat 2 sub point yaitu Pertama, Integralisasi. Kedua, Objektifikasi.
  • Konstruksi Etis, pada bagian ini terdapat 5 sub point yaitu Pertama, Tujuan Akhir Paradigma Islam. Kedua, Keterlibatan Paradigma Islam dalam Sejarah. Ketiga, Methodological Objectivism. Keempat, Sikap terhadap Ilmu-ilmu Sekuler.


BAB V Landasan Filosofi Paradigma Keilmuan Islam Kuntowijoyo


  • Aspek Orisinalitas dari Gagasan Paradigma Keilmuan Islam Kuntowijoyo
  • Nilai-nilai Dasar Paradigma Keilmuan Islam Kuntowijoyo, pada bagian ini terdapat 3 sub point yaitu Pertama, Keislaman. Kedua, Keindonesiaan. Ketiga, Kemodernan.


BAB VI Prospek Paradigma Islam Kuntowijoyo Dalam Pembangunan Ilmu Yang Integralistik


  • Aspek Koherensi-Konsistensi Paradigma Islam Kuntowijoyo.
  • Aspek Korespondensi Paradigma Islam Kuntowijoyo.
  • Peluang Paradigma Islam Kuntowijoyo dalam Diskursus Keilmuan Muslim Kontemporer.
  • Nilai Lebih Paradigma Islam dalam Pembangunan Ilmu Pengetahuan yang Integralistik.


BAB VII Penutup
A. Simpulan
Saran-saran

Download Buku Paradigma Islam dalam Pembangunan Ilmu Integralistik Karangan Muhammad Zainal Abidin


Untuk mendapatkan buku ini anda bisa download link ini "Paradigma Islam - M. Zainal Abidin". Sebenarnya secara Undang-undang buku ini tidak boleh disebarluaskan, akan tetapi karena buku ini disebarluaskan oleh penulis sendiri maka saya berani untuk menyebarluaskan juga pada blog saya yang sederhana ini.



Paradigma Islam dalam Pembangunan Ilmu Integralistik: Membaca Pemikiran Kuntowijoyo


Buku ini saya dapatkan dari akun beliau yang sudah beliau upload di academia.edu. Dengan buku ini semoga bermanfaat bagi saya khususnya dan bagi pembaca dan download buku ini pada umumnya. Amin.

"Untuk download file teresebut saya sediakan dua link, pertama bentuk google drive dan kedua sumber link asli dari academia.edu. Jika anda download di academia.edu pastikan anda sudah login terlebih dahulu. Untuk login sendiri anda bisa sinkronkan dengan gmail.com atau facebook.com"

PERHATIAN:Jika anda ingin bertanya atau bantuan bisa kontak kami
contact atau 089677337414 - Terima kasih.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui
Buka Komentar
Tutup Komentar
Close Disqus
Close Translate